• MALANG KUçEçWARA‬ • MALANG NOMINOR SURSUM MOVEOR • MALANG BELONGS TO ME •

09 Maret 2017

If All People's are United. God Save The Purity City! God Destroy The Evils.

bergerak masif tanpa menunggu komando elite, 


melangkah atas dasar mandiri komunal, 


bersatu dari hati nurani, konsep egaliter, 


persaudaraan dan kemanusiaan 


melawan benturan arogansi elit korporat,


melawan pion-pion yang ingin dijadikan martir 


untuk kelanggengan monopoli sumur uang 


dari inovasi determinasi teknologi. 


api tidak harus dilawan dengan api, 


di kota ini adalah tempatnya para kelas pemikir, 


selalu ada solusi 'diaway' 


ibarat pergerakan mematikan api 


dengan tekanan udara nitrogen, 


mematikan dan membekukan api.




God Save The Purity City! 


God Destroy The Evils. 


If All People's are United.






backsound 'Homicide - Post;Mortem diss Empowerment'

01 April 2016

102 Tahun Kota Malang



semoga Kota Malang menjadi Kota yang semakin nyaman, rapi tata kotanya, berkurang kemacetan, menjadi sejuk, semakin maju, masyarakatnya rukun, bersatu dan bersinergi selaras dengan budaya luhur yang tetap lestari!

26 November 2015

SATU JIWA SELAMANYA



berdiri bersama satu ikatan rasa
berjabat tangan kalian adalah saudara
bernyanyi lantang hentakan satu irama
berusaha slalu raih mimpi jadi juara

Kuatkan tekat, bangkitkan semangat
genggam tanganmu erat kebanggaan terhebat
singkirkan egomu, kuburlah dendammu
melangkah untuk maju, ciptakan sejarahmu

disini kita adalah keluarga
semuanya sama tak berbeda
atas nama malang dan Arema
satu jiwa untuk selamanya

nazruel d'cokrow
26/11/2015 00:28

25 November 2015

Bangsa Adalah SATU JIWA

Pancasila, Orde Baru memperingatinya tanggal 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Panca Sila. Orde Lama memperingati tanggal 1 Juni sebagai Hari Kelahiran Panca Sila. 
Esensinya, Orde Baru membikin tanggal 1 Oktober karena digandengkan dengan satu peristiwa Gestok (Gerakan 1 Oktober) atau G30S (Gerakan 30 September) yang kemudian berbuntut tumbangnya Bung Karno dan naiknya Soeharto. 
Secara substansi, sebenarnya Panca Sila patutnya diperingati tanggal 1 Juni. Tapi baiklah… bahwa kemudian 1 Oktober dikenal generasi Orde Baru sebagai Hari Kesaktian Panca Sila, tidak mengapa.
Setidaknya, Panca Sila masih ditempatkan pada proporsi yang baik sebagai ideologi bangsa ini. Sekadar renungan, berikut petuah Bung Karno:

Ernest Renan berkata: “Bangsa adalah satu jiwa”. Memang benar begitu!
Marilah kita kembali kepada jiwa kita sendiri! Jangan kita menjadi satu bangsa tiruan! Jiwa Indonesia adalah jiwa gotong-royong, jiwa persaudaraan , jiwa kekeluargaan. Kita telah merumuskan jiwa yang demikian itu dengan apa yang dinamakan Panca Sila. Hanya Panca Sila yang sesuai dengan jiwa Indonesia.
Marilah kita setia kepada Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, – Proklamasi yang bernafas Panca Sila!
(tanda tangan Soekarno)

Itulah sekadar amanat Bung Karno tentang Panca Sila. Tentang betapa Pancas Sila merupakan satu-satunya asas yang pas bagi bangsa kita. Butir-butir sila yang ada di dalamnya, merupakan hasil penggalian akar budaya, akar sosial yang telah hidup berabad-abad di setiap detaknya jatung bangsa ini.
Jika kemudian saat ini kita merasakan rentannya nilai-nilai gotong royong. Jika kita merasakan nilai-nilai persaudaraan yang memudar. Jika kita merasakan nilai-nilai persaudaraan menguap, bisa jadi karena bangsa ini memang sudah meninggalkan nafas ideologi Panca Sila. Bisa jadi karena Panca Sila sudah kehilangan makna. Bisa jadi karena ideologi itu memang sudah ditinggalkan bangsa ini. (roso daras)


sumber: https://rosodaras.wordpress.com/2010/10/01/bangsa-adalah-satu-jiwa/

MALANG (semoga tidak) MALANG



    Awal 90-2000an dulu yang pernah kurasakan di kota Malang, serasa memang suasana yang sangat berbeda dengan kota lain di jawa timur yang punys suhu panas, gerah, dan berbaur dengan keringat yang senantiasa mengucur deras dalam setiap aktivitas.  Berbeda terbalik dengan kota Malang suhu dingin, sejuk, segar, hijau, dan nyaman sangat kurasakan saat itu. Sungguh semangatku berkobar-kobar dengan suasana yang sangat mendukung seperti itu. Setiap pagi kuhirup udara yang sangat segar, ku berwudlu di subuh dengan air yang sangat dingin seperti halnya air didalam kulkas serta aroma kabut yang masih menyelimuti Malang di pagi itu. Segar, segar dan segar, menyenangkan rasanya jika setiap pagi kudapat merasakan keadaan ini. Saat ini Malang telah panas menyengat dan hampir tidak beda jauh dengan kota lainnya.
Dalam ingatanku hingga saat ini, ketika itu Malang memang tidak seramai dan sepadat sekarang. Kendaraan bermotor berlalu lalang kian kemari menyebarkan udara-udara kotor untuk menyelimuti udara segar Malang. Dulu aku masih menemui burung-burung saling berkicau, pohon-pohon hijau berayun menari di pinggir jalan, serta angin segar hulu hilir menyapa setiap makhluk hidup sekitarnya. Indah dan menyenangkan rasa-rasanya. Namun, seakan semua suasana yang aku rasakan tersebut hilang sekejap seiring berkembangnya kota Malang menjadi semakin modern. Pembangunan sana sini yang ku temui hingga saat ini memang memberikan perbedaan yang sangat signifikan. Bangunan besar telah banyak berdiri kokoh menghiasi kota, kendaraan besar seperti Bus, truk besar  dan kendaraan besar lainnya telah lama berlalu lalang dan ikut serta meracuni Bumi Arema ini, citra kota ini sebagai Kota Seribu Bunga pun hilang berganti menjadi Kota Seribu Ruko. ironis!
Selain suasana yang menyegarkan seperti yang aku deskripsikan diatas yang sudah hilang kegaduhan, kekompakan, kebersamaan, dan kesatuan hati para AREMA serasa sudah mulai luntur dan hilang kemegahan dan kegagahannya. Si Singo Edan yang di umbar-umbarkan kebersamaannya dalam ikrar “SALAM SATU JIWA” terpecah oleh kepentingan-kepentingan orang-orang asing. Kemudian, keberadaan perpecahan tersebut membuat keadaan sekitar Malang sangat berbeda, biasanya ketika AREMA bertanding di Stadion Gajayana atau Stadion Kanjuruhan Malang akan banyak Aremania dan Aremanita berkumpul untuk siap-siap menonton bersama dengan memakai atribut-atribut lengkap ala Arema.
Jika kita amati keberadaan Angkutan Kota (Angkot) yang merajalela diseluruh kota Malang kini serasa semakin berkurang jumlahnya. Entah karena memang keberadaan mahasiswa yang sudah mempunyai kendaraan masing-masing. Tidak bisa dipungkiri jumlah sepeda motor di Malang sudah sangat membludak, sehingga di sepanjang jalan kemacetan sana sini dapat terjadi. Meskipun adanya angkot terkadang membuat beberapa orang jengkel karena kelakuan supir angkot yang ugal-ugalan, berhenti mendadak, mengisi kuota angkot melebihi sewajarnya, serta ongkos angkot yang tidak wajar (biasanya jauh-dekat Rp. 2.500,- bisa menjadi Rp. 3.000,- hingga Rp. 5.000,-), tapi tetap saja memberikan warna yang variasi di kota pendidikan ini.
sebagai contoh keadaan yang berbeda juga dapat dirasakan di sepanjang jalan Pasar Dinoyo yang telah lama menjadi salah satu ikon kota Malang. Dulu kemacetan yang panjang selalu terjadi di titik ini, apalagi pas akhir-akhir pekan atau hari libur, banyak bus-bus dan kendaraan besar lainnya lewat dijalan Dinoyo untuk menuju ke tempat wisata di Malang maupun di Batu. Namun, keramaian di Pasar Dinoyo tidak akan seperti dulu lagi hal itu karena akibat kepentingan pemerintah atau bisa dikatakan kepentingan pihak-pihak elit dalam upaya untuk membangun pasar modern seperti minimarket/supermarket dan Mall sebagai pengganti pasar tradisional akhirnya menyebabkan terpinggirkannya pedagang-pedagang untuk mencari mata pencaharian. Sangat tragis jika harus melihat realita seperti ini. Mengapa harus mengedepankan kepentingan-kepentingan orang-orang elit jika nyatanya akan membuat semakin banyak orang-orang kelas bawah menjadi semakin terpuruk dalam kesengsaraan kemiskinan.

MALANGKUCECWARA!!! 
MALANG NOMINOR SURSUM MOVEOR!!!
                                      SALAM SATU JIWA!!!!!