• MALANG KUçEçWARA‬ • MALANG NOMINOR SURSUM MOVEOR • MALANG BELONGS TO ME •

08 November 2013

TORCIDA

http://nashajduk.org/portals/0/Users/meta.jpg 

Dari Kroasia sejarah suporter modern Eropa berasal. Namanya torcida yang bisa diartikan kelompok suporter. Di kemudian hari, istilah ini kalah populer dibanding ultras dan tifosi (keduanya istilah Italia), barrabravas (Argentina), atau firm (Britania) yang memiliki pengertian sejenis. Bila berperilaku negatif, suporter itu disebut hooligan.
 
Klub-klub dan tim nasional negara-negara Eropa memiliki suporter fanatik dengan riwayat panjang, seumuran dengan sejarah sepak bola itu sendiri. Begitu pula dengan kelompok suporter di Kroasia yang telah ada sejak akhir Abad XIX.
Hanya, Eropa mulai mengenal organisasi suporter dengan struktur yang jelas dan berpenampilan menarik di lapangan-–bernyanyi, menari dengan koreografi, dan memiliki komandan lapangan--setelah suporter Hajduk Split, mantan anggota klub Yugoslavia yang kini berada di wilayah Kroasia, mendirikan torcida Split pada awal 1950-an.

Mereka mengadopsi kultur suporter Brasil. Beberapa pemimpin suporter Split terkesan akan kebersamaan dan keindahan gerak suporter tim Samba saat berlangsungnya Piala Dunia 1950 di Brasil. Mereka lantas melakukan hal yang sama sepulang dari turnamen itu. Di Yugoslavia, kultur itu berkembang. Para suporter negara lain kemudian terinspirasi.

Tentu saja, ber-Mexican wave, bernyanyi bareng, dan berteriak bersama tak menghabiskan darah panas orang-orang Balkan. Vandalisme di lapangan masih dilakukan. Torcida juga melahirkan efek buruk. Kelompok suporter yang terorganisasi memudahkan para politikus memanfaatkan mereka. Di Serbia, Presiden Slobodan Milosevic membentuk pasukan paramiliter yang berasal dari suporter garis keras Red Stars Belgrade, bernama delije, saat pecahnya perang saudara di antara negara-negara bekas Yugoslavia

BARRA BRAVA

Barra brava adalah nama untuk kelompok pendukung terorganisir dari tim sepak bola di Amerika Latin. Gaya mendukung mereka sangat mirip dengan ultras Eropa. Aksi mereka termasuk berdiri sepanjang pertandingan, bernyanyi dan perilaku antusias lainnya. Beberapa barra bravas telah mengembangkan reputasi mereka sebagai hooligan versi Amerika Latin dan terkait dengan beberapa kelompok hooligan di Eropa. Fenomena ini berasal dari Argentina, Cili dan Uruguay pada 1950-an dan 60-an, tetapi telah menyebar ke seluruh Amerika pada tahun 1990. Di Brazil, kelompok yang sama bernama torcida di Meksiko, istilahnya bisa jadi barras dan porras.

Barras Bravas, demikian julukan bagi organisasi supporter bergaris keras di Amerika Latin. Argentina di samping Chile, Bolivia, dan Peru terkenal sebagai Negara yang memiliki anggota Baras Bravas terbesar di Amerika Latin.

Mereka yang menjadi bagian dari Barras Bravas tidak hanya seenak perut bertelanjang dada di bangku penonton sambil meneriakkan yel-yel bagi tim kesayangannya, tetapi juga tidak jarang berbuat ulah (www.barra-brava.com)

Di Argentina sebagian Barras Bravas yang terkenal brengseknya adalah supporter Indpendiente, Boca Juniors, River Plate dan Estudientes. Mereka tidak hanya menabuh gendang, meniup terompet, menyalakan dan melempar kembang api. Tetapi lebih dari itu mereka berani membuka pakaian seenaknya di tribun penonton  sampai menampakkan pantat-nya.

Jika mau disejajarkan, maka  Barras Bravas bisa disamakan dengan Ultras atau hooligan di Eropa. Fanatisme yang berlebihan pada tim kesayangan membuat  Barras Bravas rela melakukan apa saja demi dan untuk tim-nya. Mereka tidak hanya sekedar fans tetapi sudah melampauinya (ultra). Maka tepat disebut Ultras (Ultra-Fans).
http://spe.fotolog.com/photo/14/8/107/hools_de_la_gb/1258596268450_f.jpg

ULTRAS, A WAY OF LIFE

http://24.media.tumblr.com/72fa9b18af0cf11c74b6e9d234cc4e33/tumblr_mux7dgWMAF1r34il5o1_500.png 
 
Sebelumnya, pendukung suatu klub bersifat individualis, sendiri-sendiri atau dalam kelompok kecil. Mereka mungkin saja patriotis di stadion, tetapi identifikasi dan simbolisasi diri pendukung terhadap klub berhenti begitu laga usai dan lampu stadion dipadamkan. Mereka bersifat anonim dan sama sekali bukan merupakan bagian spiritual dari klub.

Kata Ultras dimaknai sebagai lebih, sangat, luar biasa atau ekstrem. Dalam sepakbola Ultras mengacu kepada kelompok pendukung atau fans yang terorganisasi, memiliki kode berperilaku yang bersifat komunal, cenderung eksklusif serta memiliki identitas yang kuat serta loyalitas tak terbatas kepada tim sepakbola yang didukungnya. Ultras lebih daripada sekedar hadir di stadion dan memberi dukungan, ultras adalah sebuah totalitas mental, sikap dan perbuatan dalam mendukung klub, di dalam dan di luar stadion, saat ada dalam kelompok dan saat sendiri, saat menang dan saat kalah, saat klub di puncak kejayaan dan saat klub di nadir keterpurukan. Maka, empat nilai penting pada Ultras adalah kehormatan, totalitas, loyalitas dan solidaritas.

Cikal Bakal Ultras
Kelompok Ultras pertama di dunia terbentuk justru bukan untuk mendukung sebuah klub, melainkan untuk mendukung tim nasional. Torcida Organizada terbentuk di Brasil tahun 1939 untuk mendukung timnas mereka. Perang Dunia Kedua yang melanda Eropa membuat gagasan Ultras ini sedikit terlambat berkembang ke benua biru. Barulah pada 1950 Ultras pertama Eropa lahir di Yugoslavia, ketika pendukung klub Hajduk Split membentuk Torcida Split.

Hanya butuh waktu satu tahun, gagasan Ultras ini masuk ke Italia. Tahun 1951 lahirlah Ultras pertama di Italia, Fedelissimi Granata yang mendukung klub Torino. Fenomena Ultras ini makin meluas di Italia. Maka bermunculanlah kelompok Ultras seperti Fossa dei Leoni (Milan, 1968), Boys LFN (Internazionale, 1968), Ultras Sampdoria (Sampdoria, 1969) Commandos Monteverde Lazio/CML (Lazio, 1971), Yellow-blue Brigade (Hellas Verona, 1971), Viola Club Viesseux (Fiorentina, 1971), Ultras Napoli (Napoli, 1972), Griffin Den (Genoa, 1973), For Ever Ultras (Bologna, 1975), Black and Blue Brigade (Atalanta, 1976), Fossa dei Campioni dan Panthers (Juventus, 1976), dan Commando Ultra Curva Sud/CUCS (Roma, 1977).

Modus operandi terbentuknya kelompok-kelompok ini beraneka-ragam. Menggabungkan kelompok-kelompok kecil yang sudah ada sebelumnya, dari sosialisasi di cafe atau bar, kelompok di sekolah atau kampus, komunitas suatu area geografis tertentu, partai politik dan sebagainya. Usia mereka saat terbentuknya kelompok ini biasanya berkisar antara 15-25 tahun.

Kelompok-kelompok pertama yang terbentuk di atas biasanya tidak bertahan lama. Kelompok baru dari klub yang sama bermunculan, bersaing dan menyisihkan yang sebelumnya. Atau, beberapa kelompok melakukan merger. Dipenjarakannya tokoh-tokoh suatu kelompok Ultras akibat kerusuhan  juga sering menjadi pemicu bubar. Hal yang paling sering terjadi adalah perpecahan dalam suatu kelompok akibat masuknya kepentingan partai politik yang memanfaatkan kekuatan Ultras, komersialisasi Ultras dalam memproduksi dan menjual merchandise, atau masuknya kelompok “swing ultras” alias para “glory hunters”. Mereka yang disebut terakhir ini adalah pendukung yang berpindah klub seiring naik-turunnya prestasi klub, sehingga melunturkan nilai-nilai Ultras itu sendiri. Fossa dei Leoni hingga kini tercatat sebagai Ultras yang paling lama bertahan (1968-2005).

Regenerasi anggota pada kelompok Ultras biasanya dilakukan secara turun-temurun dalam keluarga, dalam suatu institusi sosial-budaya seperti sekolah, kampus, klub-klub hiburan dan sebagainya. Penanaman nilai-nilai Ultras ini berlangsung sejak usia dini secara alamiah

Independensi
Nilai penting lain yang dianut Ultras adalah independensi. Nilai terakhir ini secara masif diperkenalkan oleh Irriducibili Lazio yang terbentuk tahun 1987. Penerapan independensi membatasi loyalitas Ultras hanya kepada tim atau para pemain, dan mengambil posisi independen terhadap pihak lainnya termasuk partai politik, sponsor dan terutama terhadap manajemen klub.

Setelah hadirnya Irriducibili Lazio, maka Ultras di Italia tersegregasi menjadi Ultras Keras dan Ultras Lunak. Kelompok keras akan menolak bantuan dalam bentuk apapun dari manajemen klub, mereka mandiri secara finansial, mengeluarkan uang pribadi untuk tiket dan biaya perjalanan dari kota ke kota mengikuti para pemain yang bertanding serta untuk memproduksi peraga (tifo) dalam stadion. Tak heran, fans Lazio misalnya, dapat bersikap sangat konfrontatif terhadap manajemen Lazio sendiri demi kepentingan pemain dan tim, yang diyakininya. Kelompok Ultras keras ini bersikap protektif membela pemain dan memprotes kebijakan manajemen klub saat prestasi kub melorot.

Kelompok lunak ini cenderung sejalan dengan manajemen klub dan sangat bergantung pada manajemen klub dalam hal pendanaan untuk keperluan spanduk atau bendera, penyediaan sarana gudang atau sekretariat, diskon tiket dan bahkan penyediaan sarana transportasi. Kelompok Ultras dari Juventus misalnya, sebagian besar terdiri dari keluarga dan kerabat pabrik mobil Fiat dan pemasoknya, mereka dikoordinasi dan dibiayai oleh keluarga besar Agnelli. Sementara kelompok Ultras di Internazionale memiliki hubungan finansial yang erat dengan keluarga besar Moratti. Beberapa kelompok bahkan memakai nama sang taipan minyak Italia tersebut pada nama grupnya. Kelompok Ultras lunak ini cenderung membela manajemen klub dan menyalahkan pemain atau pelatih jika prestasi klub merosot.

Apapun, Ultras lebih daripada sekedar pendukung klub. Ultras adalah jalan hidup, gaya hidup dan mentalitas. Tahun 2009 kelompok Ultras keras dari Lazio, Roma, AC Milan, Catania, Genoa dan Napoli mengadakan demonstrasi besar di kota Roma menentang penindasan atas Ultras dan pembatasan masuk stadion. Mereka mengeluarkan deklarasi bersama. Isi deklarasi ini dapat menggambarkan, bagaimana mentalitas Ultras itu sesungguhnya.
Ultras ( Way Of Life )
Ultras, a Way of Life:

“Kami berbeda dari yang normal dan biasa. Berbeda dari rata-rata, dari yang umumnya ada. Kehormatan, totalitas, loyalitas dan persahabatan. Ultras adalah tentang nilai-nilai idealisme yang diterapkan sepanjang masa. Ultras bukan tentang yang terbaik atau yang teratas , melainkan tentang mentalitas. Mentalitas yang hanya ada pada Ultras. Mentalitas yang yang lebih kuat dari segala tekanan. Pelarangan masuk stadion dan jeruji penjara, tak ada yang dapat menghentikan kami. Kami Ultras, tindaslah kami, maka bara tekad kami akan semakin besar. Kami memercayai mentalitas Ultras. Sepakbola telah sakit, benar-benar sakit. Semuanya hanya tentang uang, uang dan uang. Sepakbola normal telah diabaikan, stadion tak pernah terisi penuh. Mereka menyalahkan Ultras, tapi kami tahu lebih baik daripada mereka.”

“Kamilah bagian termurni yang bertahan dari sepakbola. Kami mengeluarkan ratusan euro dan menempuh ribuan kilometer ke segenap pelosok Italia untuk mewakili kota kami, warna dan klub kami. Kekerasan bukan lagi yang terpenting, karena kalian akan selalu menemukan kekerasan dimanapun kalian berada, di setiap kebudayaan dan di setiap negara. Mereka mengatakan bahwa Ultras merusak sepakbola. Salah besar! Uang, doping, menyuap pemain dan membayar wasit serta pemain yang digaji tak masuk akal tingginya, itulah yang merusak sepakbola. Kamilah yang selalu meneriakkan dukungan bagi tim kami, setiap hari, setiap minggu. Salju, hujan dan teriknya matahari bukan masalah bagi kami. Kami membenci sistem kalian, kami melawan penindasan kalian, dan akan selalu begitu. Ayah-ayah kami dulu memenuhi Curva, kini kami yang ada di sana, dan kelak putera-putera kami yang akan menggantikan. Kami akan menanamkan kepada mereka nilai-nilai yang kami anut, membuat mereka mengerti tentang mentalitas kami, sehingga mereka akan melalui jalan hidup yang sama dengan kami. Generasi tua hilang, generasi baru muncul, tetapi idealisme Ultras akan tetap sama sepanjang masa.”http://arashiarrizqi.files.wordpress.com/2013/07/wpid-ultras_by_th3m4j0r-d4n8f1h_20130712230529242.jpg

CASUAL CULTURE

http://img1.liveinternet.ru/images/attach/b/3/22/726/22726950_casual.jpgCasuals merupakan salah satu bagian dari budaya didalam sepak bola, yang identik dengan hooligansime dan pakaian-pakaian mahal bermerek. Sub kultur ini lahir pada akhir dekade 70-an, di Britania Raya, dimana ketika itu banyak para hooligan klub-klub sepak bola, mulai mengenakan pakaian-pakaian mahal untuk menghindari perhatian polisi. Mereka tidak lagi mengenakan atribut-atribut beraroma logo-logo klub kesayangan, agar tidak dikenali, sehingga lebih mudah untuk menyusup kelompok musuh dan untuk masuk kedalam pub.

Jenis-jenis musik yang disukai oleh para Casuals pada akhir dekade 70-an adalah Oi!, Mod, dan Ska. Tak heran, karena beberapa Casuals itu merupakan pengikut dari sub kultur skinhead, mod, dan rude boy. Pada era 80-an, selera musik Casuals bersifat eklektik alias campur-campur. Pada akhir dekade 80-an dan 90-an awal, mereka cenderung menyukai scene Madchester (co: The Stone Roses), dan Rave. Dan di era 90-an saat sub kultur alternatif baru yang bernama Britpop, yang digunakan untuk melawan arus Grunge, para Casuals ini pun menjadi penggemar Britpop.

Ada pengaruh kuat dari budaya Rave terhadap Casuals, rave sendiri cenderung menyerukan perdamaian, sehingga banyak dari Casuals ini yang mengenakan pakaian-pakaian khas mereka, namun justru menjauhkan diri dari tindak hooliganisme. Kadang-kadang banyak band-band yang bergaya Casuals saat dipanggung dan dalam sesi pemotretan, seperti yang dilakukan Damon Albarn dan kawan-kawan di BLUR dalam video “Parklife” Sejak itu Brutal pop khas BLUR (kadang disebut juga indie rock) telah menjadi jenis musik yang paling disukai oleh Casuals.

SEJARAH

Sejak pertengahan dekade 50-an, para pendukung sepak bola di Inggris sudah mulai terpengaruh dengan gaya berpakaian Teddy Boys, yang tumbuh pada masa itu. Dan asal-usul budaya Casuals sendiri dapat dilihat dalam sub kultur Mod pada awal 60-an. Para pemuda pengikut sub kultur Mod, mulai membawa gaya berpakaiannya ke dalam teras sepak bola. Kemudian pengikut-pengikut sub kultur lain seperti Skinhead juga membawa gaya berpakaiannya kedalam teras sepak bola.

Ditandai dengan kebangkitan sub kultur Mod pada akhir 70-an, Casuals mulai tumbuh dan berubah setelah pendukung Liverpool, memperkenalkan merek-merek fashion Eropa yang mereka peroleh saat menemani klub kesayangan mereka melawan klub Perancis, Saint Etienne. Para pendukung Liverpool yang menemani klub kesayangan mereka menjalani laga melawan klub-klub Eropa, pulang ke Inggris dengan membawa pakaian-pakaian bermerek dari Italia dan Perancis, yang mereka jarah dari toko-toko.

Pada saat itu, para polisi masih fokus para pendukung yang bergaya Skinhead, dengan sepatu bot khasnya, Dr. Martens, dan tidak memperhatikan para penggemar yang menggunakan pakaian-pakaian mahal karya desainer-desainer ternama. Para pendukung Liverpool kemudian membawa lagi merek-merek pakaian yang tidak pernah dijumpai sebelumnya di Inggris. Dan para pendukung klub-klub lain pun mulai memburu merek-merek Eropa yang masih langka di Inggris. Adapun para pendukung Liverpool masih identik dengan Lacoste Shirt dan Adidas Training hingga saat ini.

Label pakaian yang terkait dengan Casuals pada tahun 1980 meliputi: Edinburgh Woollen Mill, Fruit of the Loom, Fila, Stone Island, Fiorucci, Pepe, Benetton, Sergio Tacchini, Ralph Lauren, Henri Lloyd, Lyle & Scott, Adidas, CP Company, Ben Sherman, Fred Perry, Lacoste, Kappa, Pringle, Burberry dan Slazenger. Trend berpakaian terus berubah dan subkultur Casuals mencapai puncaknya pada akhir 1980-an. Dengan lahirnya scene musik Acid House, Rave and Madchester. Dan kekerasan dalam sub kultur Casuals memudar hingga batas tertentu.

1990s and 2000s

Pada pertengahan 1990-an, sub kultur Casuals mengalami kebangkitan besar, tetapi penekanan pada gaya telah sedikit berubah. Banyak para penggemar sepak bola mengadopsi Casuals tampak sebagai semacam seragam, mengidentifikasi bahwa mereka berbeda dari pendukung klub biasa. Merek seperti Stone Island, Aquascutum, Burberry dan CP company terlihat di hampir setiap klub, serta merek-merek klasik favorit seperti Lacoste, Paul & Shark dan Pharabouth.

Pada akhir 1990-an, banyak pendukung sepak bola mulai bergerak menjauh dari merek-merek yang dianggap seragam Casuals, karena polisi mulai memerhatikan tindak tanduk Casuals. Selain itu beberapa desainer juga menarik produk-produk mereka setelah tau bahwa produk-produk mereka di pakai oleh Casuals.

Meskipun beberapa Casuals terus memakai pakaian Stone Island di tahun 2000-an, banyak dari mereka yang telah mencopot logo kompas Stone Island sehingga merek pakaian mereka menjadi tidak ketahuan. Namun, dengan dua tombol masih menempel, orang yang tahu masih bisa mengenali pakaian Casuals lainnya. Pada akhir 90-an itu beberapa pasukan polisi mencoba untuk menghubungkan logo kompas Stone Island dengan neo-Nazi versi dari salib Celtic.

Karena itu, label pakaian baru mulai memperoleh popularitas di antara Casuals. Seperti halnya produk-produk pakaian dari merek-merek ternama yang laku dipasaran, barang palsu yang murah juga mudah didapat. Prada, Façonnable, Hugo Boss, Fake London Genius, One True Saxon, Maharishi, Mandarina Duck, 6.876, dan Dupe telah mulai mendapatkan popularitas luas.

Casual fashion telah mengalami peningkatan popularitas di tahun 2000-an, setelah beberapa band-band Inggris seperti The Streets dan The Mitchell Brothers menggunakan pakaian kasual olahraga dalam video musik mereka. Budaya Casuals pun telah diangkat ke dalam media visual seperti film-film dan program televisi seperti ID, The Firm, Cass, The Real Football Factory dan Green Street Hooligans 1 & 2.

Pada tahun 2000-an, label pakaian yang terkait dengan pakaian Casuals termasuk: Stone Island, Adidas Originals, Lyle & Scott, Fred Perry, Armani, Three stroke, Lambretta, Pharabouth dan Lacoste. Namun menjelang akhir dekade 2000-an banyak Casuals yang menggunakan label-label independen seperti Albam, YMC, APC, Folk, Nudie Jeans, Edwin, Garbstore, Engineered Garments, Wood Wood dan Superga. Namun merek besar seperti Lacoste, Ralph Lauren dan CP Company masih popular di kalangan Casuals. Banyak para penggemar Casual telah mengadopsi tampilan yang tidak mencolok dan fashion Underground , menghindari lebih banyak merk-merk mainstream yang terkenal untuk label pakaian yang independent.

Casual adalah fenomena tribun, mereka diinkubasi di dalam dan sekitar lapangan sepak bola, serta menjadi didominasi kelas pekerja (Working Class) dan benar-benar menyadarinya sekitar 1980-1981. Orang-orang yang menjadi orang pertama dalam budaya Casuals tela menjadi Mods, skinhead, dan Glory Boys. Dan tumbuh dari kultus kelas pekerja lainnya.
Pada pertandingan sepak bola, para polisi sedang mencari para pria berambut pendek dan yang memakai DocMarts, tidak cowok di Farahs dan Trainer dengan potongan rambut wedge dan terlalu banyak perhiasan, Jadi Casual terlihat masuk diakal.
Koran-koran masih memberitakan tentang para skinhead selama bertahun-tahun setelah para hooligan tribun yang sebenarnya telah pindah
/pensiun.



*berbagai sumber

AGAINST MODERN FOOTBALL

http://media.tumblr.com/tumblr_manimejW7R1rxn51p.jpg

Against Modern Football adalah sebuah aksi protes terhadap dampak dari sepakbola modern yang tidak lagi seperti yang mereka inginkan.
sepakbola pada masa kini sekarang bukan lagi seperti permainan sepakbola pada jaman dahulu...pada masa kini sepakbola sudah menjadi sebuah media politik,dan sebuah bisnis besar. Dampak yang mereka sesali dari sepak bola modern ini adalah mulai hilangnya sebuah passion dalam mendukung sebuah tim sepakbola.
Dimulai dengan mulai banyaknya bermunculan plastic suporter atau sering di sebut dengan istilah suporter dadakan/ikut-ikutan trend saja,yang hanya menonton dan menyukai sepakbola pada saat dunia sedang demam sepakbola,biasanya pada masa masa piala dunia atau saat liga champions saja.
Dampak itu juga ditunjukan pada atmosfer di stadion yang sudah tidak seperti dahalu lagi,sekarang penonton
di stadion lebih memilih duduk-duduk sambil ngobrol,bahkan foto-foto dengan dengan teman temannya untuk di upload di jejaringan sosial agar terlihat eksis mungkin maksudnya...hahahaha :D
Tidak lagi seperti dahulu yang datang ke stadion memang benar-benar datang untuk mendukung tim kesayangannya dengan berdiri 2x45menit sambil meneriakan yel yel untuk tim yang mereka dukung.
Loyalitas....yaa itu adalah harga mati bagi mereka.
http://static.tumblr.com/syvcnlw/b5bmat2u7/latar_blkgul.png“ AGAINST MODERN FOOTBALL”. Sebuah istilah yang dipake sebagai perlawanan untuk perindustrian di dalam sepakbola. Dahulu sepakbola adaalah sebuah hiburan bagi masyarakat kalangan menengah kebawah (seperti saya ini,hehe) namun pada perkembangannya sepakbola sekarang menjadi sebuah industry yang sangat menggiurkan, coba lihat dalam seminggu saja pemain sepak bola seperti cristiano ronaldo atau leonel messi bisa menghasilkan penghasilan milyaran rupiah. bayangin men, Cuma seminggu dapet milyaran!!!  Untuk itu sebuah tim sepak bola juga membutuhkan penghasilan untuk membayar pemain yang bayarannyan gede-gede. Penghasilan itu salah satunya didapat dari tiket penonton pertandingan,karena untuk mendapatkan pemghasilan yang banyak pihak klub pun menaikan harga tiket menjadi mahal bagi kaum kelas bawah. Dan lagi untuk menikmati siaran pertandingannya pun harus bayar karena pihak klub juga menjual hak siar, beruntung kita diindonesia masih gratis untuk menikmati pertandingan-pertandingan liga-liga dieropa berkat stasiun tivi diindonesia yang membeli hak siarnya dengan harga yang mahal. Untuk untung atau tidaknya stasiun tivi di indinoesia rugi atau tidak yang jelas pasti untung lah kalau enggak ya mana mau,hihi. Balik lagi ke pokok pmbahasan, pihak klub juga menerima sponsor dari berbagai macam produk yang akan tercetak di jersey nyA. Pihak klub juga bisa menjual kepemilikan klub atau Cuma sebagian sahamnya saja kepada orang-rang kaya untuk mendapatkan glontoran dana segar, sekarang ini lagi tren klub di jual kepada syeih-syeih kaya raya yang pengusaha minyak dari timur tengah. Yang lebih mengenaskan lagi jika klub dijual dan namanya diganti namanya. Salah satu contohnya adalah Tim AUSTRIA SALZBURG yang sekarang telah berganti nama menjadi RED BULL SALZBURG dimana orang-orang kaya membeli tim itu lalu mengubah segalanya tentang tim itu, Mulai dari NAMA hingga Warna tim itu. Bahkan supporter tim itu tak diperkenankan memakai Jarsey lama dari AUSTRIA SALZBURG, dan ini berarti SEPAK BOLA MODERN telah melupakan masa lalu, Sejarah Tim dan Tradisi daritim itu sendiri. Aspirasi dari supporter dan fans tidak dimasukkan sebagi pertimbangan untuk memutuskan sebuah keputusan dalam Sepak Bola Modern. Dan kini semata – mata Supporter hanyalah Uang berjangka yang terus mengalir untuk mendapatkan sebuah tiket dengan Harga yang lebih WOW dari sebelumnya. Tak ada yang peduli ketika perlahan para Fans pergi, dan memakai uang simpanannya untuk mendukung timnya dalam laga away, yang padahal biasanya hanya bermain di akhir pekan saja.
  Selain itu tugas supporter yang seharusnya tetap berdiri kini hanya duduk dan menonton saja sambil sesekali meneriakan kekesalannya. Kini Tampilan tak diperbolehkan, tak ada kembang api, Bendera dan Polisi pun kini bertindak lebih brutal terhadap supporter.Mereka menangkapi Supporter dengan tampilan yang dianggapnya sebagai biang kerusuhan dan melarangnya memasuki daerah stadion. Hanya dengan kecurigaan mereka bisa langsung menghakimi. Di eropa Semua supporter sudah muak diperlakukan seperti seorang penjahat dan di persulit akses menuju stadion . Semua kini di tentukan oleh Sponsor. Sponsor pula yang menentukan kapan pertandingan harus dimulai setelah memastikan sebagian besar pelanggannya duduk di depan TV.

Tapi usaha itu semua bagi kami hanyalah sia-sia saja, karena bagi kami:

1. Kami tidak mendukung sponsor yang berkontribusi pada permainan yang berlangsung selama seminggu full.
2. Kami tidak membeli produk di mana kita berpikir bahwa mereka memberikan kontribusi untuk mengubah sejarah sebuah tim ‘dan tradisi yang ada.
3. Kami tidak berlangganan Channel TV olahraga swasta karena memberi kontribusi untuk mengubah melepaskan tendangan kali, sehingga sulit bagi para fans mengikuti tim mereka di laga away.
4. Kami menentang semua tempat duduk stadion. Kami akan BERDIRI dan mendukung tim kami.!
5. Kami tidak akan menampilkan bendera dan spanduk yang diberikan kepada kita oleh pihak “sponsor” dan lebih baik memiliki yang lain dari pada nama kelompok kami atau nama tim kami diambil mereka.
6. Kami membenci musik disko sebelum, setelah dan di istirahat dari permainan, serta tarian menjijikan dan acara lainnya. Kami ada untuk menonton pertandingan sepak bola dan bukan teater cerdik!
Berbeda halnya dengan sepakbola diindonesia yang sedang menuju sepakbola industri. Di Indonesia sedang berkembang sepakbolanya, dan ingin meniru klub2 dieropa untuk menjadi klub professional yang mandiri yang lepas dari APBD. Saya jelaskan dulu, dibeberapa tahun lalu klub-klub Indonesia menggunakan APBD untuk menyokong dana. Untuk itu sekarang klub sedang mencari sponsor untuk membiayai. Namun sangat sulit, karena perusahaan yang akan mensposori melihat sepakbola diindonesia itu sering terjadi rusuh antar supporter sehingga mereka enggan menjadi sponsor. Untuk itu klub pun akhirnya menaikan harga tiket pertandingan karena pemasukan tiket adalah salah satu pemasukan terbesarnya. Jelas itu sangat berat bagi kalangan bawah.
Tingginya harga tiket,serta banyaknya sponsor yang mempengaruhi banyak pemain yang menjadi egois saat dilapangan agar menjadi sorotan tim tim besar sehingga tidak ada lagi team work saat di lapangan. Tingginya nilai harga jual beli pemain yang berdampak pada kepribadian pemain yang menganggap bahwa dirinya adalah bintang lapangan hanya karena dia adalah seorang pemain dengan gaji yang sangat besarr...aahhh WTF!!
Belum lagi menang atau kalah sebuah tim sekarang bisa di monopoli oleh mafia mafia judi internasional dengan mengancam pemain dengan cara menyandera keluarga pemain atau bahkan menyuap seorang wasit agar skor dapat sesuai selera...hahahahaha sepakbola macam apa itu!

http://lfhr.antifa.cz/against_modern_football_scarf_by_indehekken-d3cxy7r.jpg 
 LOVE THE GAME,HATE THE BUSINESS .....turn off your television and go to stadium!!
sumber: 0-1 amf