• MALANG KUçEçWARA‬ • MALANG NOMINOR SURSUM MOVEOR • MALANG BELONGS TO ME •

24 Agustus 2014

SEBUAH PERADABAN DARI ‘BAWAH TANAH’ KOTA MALANG [PART 3]

Sebuah Peradaban Dari Bawah Tanah Kota Malang [III]



Era ’90-an sering disebut sebagai masa terbaik dan ‘golden ages’ dalam scene rock & roll di manapun. Sekaligus merupakan dekade yang paling kejam serta membingungkan. Lahirnya berbagai [sub]genre rock hingga yang paling bungsu sekalipun. Serbuan arus tehnologi dan informasi hiburan. Invasi media, MTV dan benih internet. Serta transisi wacana dan ‘pembaptisan’ sebuah generasi baru. Berikut separuh dekade pertama dari scene rock kota Malang!…

Periode Pemotong Rumput [1990 – 1995]
Memasuki era 90-an, musik rock digeber lebih ekstrim ketika berbagai tipe musik metal seperti heavymetal, speedmetal maupun thrashmetal dipuja-puja oleh kawula muda kota Malang. Metallica, Megadeth, Kreator, Slayer, Sepultura, Testament, Anthrax, Iron Maiden, Overkill sampai Helloween sudah bagaikan ‘pahlawan’ dan ‘orang tua’ baru bagi mereka.
Denyut nadi band-band lokal masih berdetak dengan maraknya ajang parade dan festival musik lokal yang dipelopori komunitas Generasi Musisi Malang [Gemma]. Musik keras selalu jadi sajian utama, yang bahkan mampu merambah pentas-pentas umum di sekolah dan kampus. Agak berbeda dengan kondisi sekarang, di mana acara musik malah dipenuhi oleh band-band yang ‘so-called-indie’ atau band top-40.
Di awal era 90-an, ada sejumlah band lokal yang cukup ‘happening’. Dye Maker [into Kreator] atau Gusar [into old Sepultura] dikenal gagah dan sering jadi headliner di setiap pentasnya. Lalu ada Mayhem [into Kreator/Necrodeath] yang dalam aksi panggungnya kerap memanggil arwah Micky Jaguar sambil meminum darah kelinci. Darkness, yang hampir selalu mengkover lagu andalan She’s Gone [Stellheart] mencuri perhatian lewat atraksi sang gitaris yang selalu memainkan gitar pakai gigi pada sesi solonya.
Kemudian Nevermind yang doyan mengusung lagu kover dari Metallica, di mana Ravi [sekarang gitaris Extreme Decay & Berry Prima] masih main drum di band ini. Sementara Primitive Symphony sudah menjajal musik cepat dan intens ala Napalm Death dan Brutal Truth. Beberapa nama lain seperti Epitaph, Abstain, Megatrue, Resek, atau Orchestration Foolish juga cukup aktif dalam pentas dan sudah mulai menulis lagu sendiri, meskipun tidak semuanya berhasil direkam menjadi demo.
Aktifitas dan gaya hidup arek-arek penggila musik cadas juga mulai tampak di setiap akhir pekannya. Mereka kerap nongkrong di areal lapak kaset bajakan serta stand lukisan foto amatir di deretan toko buku Siswa, daerah alun-alun kota Malang. Dandanan mereka cukup khas dan mudah dikenali. Rambut gondrong, kaos hitam, jins ketat dan sepatu kets yang dipadu dengan asesoris kalung, anting atau gelang metal. Rawkz!
Di jaman scene musik lokal yang belum mengenal distro apalagi merchandise band, anak-anak muda itu sudah mulai menggemari fashion rock/metal. Kaos-kaos bergambar band pujaan menjadi kostum wajib untuk nonton konser atau sekedang nongkrong bareng. Tetapi saat itu bukanlah produk impor seperti halnya yang dipakai anak-anak sekarang. Mereka biasanya membeli produk domestik dari Bandung, Surabaya atau Jakarta. Tidak peduli kaos band bermerek C59, HR Prod, atau More Shop asalkan berdesain band favorit pasti dilahap!…
Tapi ada yang menarik ketika beberapa orang merasa kurang puas dengan kaos-kaos band yang ada di pasaran. Kaos impor mungkin terlalu mahal bagi mereka yang notabene masih pelajar, mahasiswa atau pengangguran. Pembelian via mail-order pun masih asing di telinga mereka. Sebagai alternatifnya, mereka bikin kaos sendiri cara dilukis [bukan disablon!]. Nama kakak beradik, Tanto dan Dwi, saat itu dikenal sebagai seniman muda berbakat yang sering menerima order melukis kaos band. Konsumen bisa memilih sendiri model desainnya sesuai keinginan, pasti ekslusif dan cuma dibikin satu biji. Jangan heran kalau dulu ada kaos Dismember, Disharmonic Orchestra, Pestilence, Pungent Stench, Messiah, atau Greenday dengan gambar disain yang tidak umum, bahkan janggal dan gak masuk akal!…
Saat itu rekaman album rock dan metal asing terbilang cukup banyak beredar di pasaran Indonesia. Untuk yang satu ini, kita musti berterima kasih pada perusahan distributor Indo Semar Sakti, dengan label stiker ‘trash’-nya di box kaset. Sedangkan untuk rekaman-rekaman klasik yang terbilang langka dan tidak dirilis di Indonesia kita terpaksa harus mempercayakan kepada produser kaset bajakan. Tidak seperti sekarang yang lebih mudah karena bisa order langsung atau download via internet.
Bicara soal kaset bajakan, dulu hanya dengan uang tiga ribu perak arek Malang sudah bisa membawa pulang rekaman-rekaman klasik seperti Napalm Death Scum, Kreator Pleasure To Kill, AMQA Mutant Cats From Hell, D.R.I Crossover, atau Death Scream Bloody Gore. Hampir semuanya adalah bajakan dari label VSP Malaysia, dengan kover selembar foto reproan [tanpa sleeve apalagi lirik!] serta kualitas rekaman yang tidak terlalu bagus.
Informasi aktual tentang musik cadas juga hanya bisa mereka penuhi lewat media-media tradisional [sekali lagi, belum ada internet saat itu!]. Salah satu media yang cukup terbuka dan ikut mendukung progres musik rock saat itu adalah radio Senaputra. Stasiun radio yang ber-frekuensi AM itu hampir setiap hari memutar lagu dan informasi seputar musik keras.
Pada jam-jam siaran yang bising itulah Senaputra kerap ditongkrongi oleh anak-anak muda. Mereka datang membawa kaset rekaman, me-request lagu, dan tiba-tiba memasang marga ‘Cavalera’ atau ‘Petrozza’ di belakang namanya. Cukup klasik, unik dan lucu. Nama-nama udara seperti Antok Schenker, Budi Sarzo, Ivan Petrozza, Johan Cavalera, Andri Teaz, Ujik Obituary, Adin Murmur, Tepi Sepultura, atau Momon Ventor menjadi akrab di telinga pendengar setia radio tersebut.
Di balik meja studio siaran Senaputra, sosok Ovan Tobing adalah nama paten yang mengasuh setiap program musik keras di radio itu. Beliau dikenal memiliki figur dan wibawa yang kuat di kalangan publik rock kota Malang. Pria yang akrab dipanggil Bung Ovan ini juga spesialis MC untuk beberapa konser rock penting di Jawa Timur, seperti pada serial Festival Rock Log Zhelebour, Sepultura [1992], sampai Helloween [2004].
Pamor Senaputra sebagai radio yang konsen pada musik rock memang cukup melegenda. Mungkin sama halnya dengan radio Mustang [Jkt] atau GMR [Bdg]. Sejumlah musisi mulai dari Godbless, Elpamas, Power Metal, Nicky Astria, hingga Rotor dan Tengkorak pernah menyempatkan berkunjung ke radio tersebut dalam rangka promo maupun wawancara on-air. Dan belum lama ini, Burgerkill serta Seringai masih sempat diundang talkshow di Senaputra.
“Wah, ini pertama kalinya kita diwawancarai ama radio frekuensi AM. Salut, masih ada juga ternyata,” komentar Ebenz [gitaris Burgerkill] heran ketika diundang talkshow di Senaputra, Juli 2006 lalu. “Malah radio ini yang pertama kali dapet dan muterin rekaman lengkap materi album baru Beyond Coma and Despair yang justru belum kami rilis!” Sadisnya, Senaputra juga jadi stasiun radio terakhir yang sempat mewawancarai mendiang vokalis Burgerkill, Ivan Scumbag, sebelum meninggal dunia tiga pekan kemudian. Ugh!
Hingga sekarang, program musik keras di radio yang dikenal memiliki koleksi lagu-lagu rock yang lumayan langka dan klasik ini masih terus berlanjut. Gaya siaran yang unik, ‘old school’ dan berkarakter ‘Arema’ masih dipertahankan oleh stasiun radio yang sejak awal 2007 sudah berpindah gelombang ke frekuensi FM itu. Selain Senaputra, pada saat itu juga ada beberapa radio eksperimen yang beroperasi secara gelap dan amatir, serta kerap memutar lagu-lagu cadas meski dalam jadwal siaran yang tidak teratur.
Berbagai pertunjukan musik rock tetap membahana di kota Malang. Selain festival musik yang hanya diisi band-band lokal, beberapa pertunjukan skala besar juga masih menghebohkan. Kota Malang tetap diserbu aksi musisi rock sekelas Slank, Elpamas, Dewa, Power Metal, Mel Shandy hingga rocker-rocker regional macam Andromeda, Red Spider atau Kamikaze.
Salah satu momen rock terpenting di Jawa Timur, khususnya bagi para metalhead, adalah konser Sepultura di stadion Tambaksari, Surabaya [1992]. Band asal Brasil itu datang di waktu yang tepat, saat masyarakat sedang demam thrashmetal dan Sepultura adalah favorit bagi banyak anak muda. Ribuan arek metal Malang berangkat menuju Surabaya, dan bergabung bersama puluhan ribu penonton menyaksikan event garapan Log Zhelebour Production yang juga menampilkan Mel Shandy dan Power Metal sebagai opening act tersebut.
Memasuki era pertengahan 90-an, komunitas Gemma mulai mengalami konflik internal dan tidak terlalu aktif lagi. Imbasnya, sebagian besar band angkatan awal seperti kehilangan motor penggerak semenjak Gemma non-eksis. Dye Maker dan Mayhem perlahan hilang tanpa kabar. Gusar juga bubar dan hanya menyisakan sebuah rekaman demo latihan studio [rehearsal]. Selebihnya band-band yang lain memilih untuk tidak aktif, vakum, atau membubarkan diri tanpa menghasilkan karya apapun. Sayang, setelah sekian lama menggemakan musik keras, tampaknya revolusi band-band ‘Angkatan Gemma’ musti berakhir di sini. Menyedihkan…
Kemudian lahir satu kondisi yang menarik pada peta musik cadas kota Malang. Ini mirip seperti slogan ‘destroy, erase, improve’. Seakan-akan ada reinkarnasi penting dari sisa-sisa generasi sebelumnya. Beberapa musisi berusia muda nekat ‘menghancurkan’ euforia masa lalu. Mereka mengumpulkan kekuatan kembali dan hadir dalam wacana serta selera yang lebih anyar. Anak-anak muda itu punya satu visi yang lalu dituangkan dalam gerakan bermusik, bikin band baru, serta merancang konsep musik yang lebih aktual.
Seperti personil Orchestration Foolish yang bikin band baru dengan musik yang lebih brutal lagi dengan nama Rotten Corpse. Primitive Symphony memilih ber-transformasi menjadi Bangkai serta memantapkan diri di jalur grindcore yang ngebut ala Napalm Death atau Brutal Truth. Lalu Abstain yang membubarkan diri dan merancang band deathmetal, Malignant Covenant, yang kemudian bernama Sekarat. Sejumlah band baru juga lahir, seperti misalnya Genital Giblets [eks Brutality], UGD, Kurusetra, Clinic Death, Syaitan, dan masih banyak lagi.
Informasi musik makin berkembang dan variatif melalui invasi media radio, majalah Hai, atau MTV. Arek-arek Malang juga mulai mengenal variasi [sub]genre yang lain. Hal ini dibuktikan lewat eksistensi band-band baru seperti Grindpeace [industrial-metal], Ritual Orchestra [blackmetal], No Man’s Land [punk], Ingus [punk/HC], Santhet [blackmetal], Obnoxious [punk], dan masih banyak lagi.
Anak-anak muda inilah yang kemudian banyak mengisi halaman musik cadas lokal sejak sekitar tahun 1994. Mereka notabene masih berstatus pelajar atau mahasiswa tingkat awal dan justru lebih aktif serta dominan dalam aktifitas scene musik lokal. Tak heran kalau pertunjukan musik [parade/festival] saat itu lebih banyak digelar di wilayah kampus atau sekolah. Parade musik Fisheries di Unibraw dan Independent di kampus ITN adalah serial music-fest yang cukup populer, serta selalu menampilkan aksi band-band beraliran cadas.
Separuh dekade pertama ’90-an menjadi masa transisi bagi para pelaku aktifitas scene musik di Malang. Sekilas tampak seperti kembali ke titik nol dan menjadi sebuah pengulangan sejarah. Sejak satu generasi sudah melupakan mimpinya menjadi rockstar dan musti kembali pada kehidupan nyata seperti bekerja atau berkeluarga. Hingga akhirnya satu tunas baru lahir dan nekat menciptakan ‘dunianya’ sendiri. Mereka adalah anak-anak muda yang dulu hanyalah segerombolan penonton yang duduk diam di tribun. Mereka mulai berani tampil di front depan membawa wacana dan pola pikir bermusik yang jauh berbeda dari sebelumnya. Ya, generasi telah berganti dan komando telah diambil alih…
[Samack]

Esai ini adalah bagian dari proyek dokumentasi scene rock MLG oleh Solidrock. Artikel berikutnya [1995-2000] merupakan intro pertama dari scene, underground, metal, punk, hardcore, do-it-yourself, gigs, squat, serta segala kata kunci yang sangat kamu gilai saat ini. Dan rasanya sebagian orang akan mulai terharu serta menitikkan air mata… 

SUMBER: https://apokalipwebzine.wordpress.com/2010/11/26/sebuah-peradaban-dari-bawah-tanah-kota-malang-iii/

SEBUAH PERADABAN DARI ‘BAWAH TANAH’ KOTA MALANG [PART 2]

Sebuah Peradaban Dari Bawah Tanah Kota Malang [II]

Sekarang kita menuju pada iklim panas kota Malang di tahun 80-an. Ketika rock & roll masih sanggup ‘menampar’ keras fenomena disko dan new wave. Bahkan musik rock mulai terdengar lebih heavy dan ekstrim. Berikut catatan singkat dan sekilas pandang tentang progresi budaya serta komunitas musik cadas dari bumi arema…
Periode Pemukul Batu & Logam [1980-an]
Memasuki dekade delapanpuluhan, embrio band-band lokal lebih banyak dimunculkan oleh kaum pelajar serta mahasiswa di wilayah sekolah dan kampus. Salah satunya adalah Bhawikarsu yang didirikan oleh para pelajar SMAN 3 Malang. Kelompok musik beraliran jazz-rock yang dipelopori Wiwie GV itu bahkan jadi semacam home-band di sekolah tersebut. Wiwie GV kemudian membentuk Gank Voice bersama Wahyu [vokal], yang juga dibantu oleh sejumlah musisi berbakat, termasuk gitaris Totok Tewel [Elpamas].
Saat itu, Gank Voice termasuk kelompok yang cukup populer di Malang. Mereka sering diundang tampil dalam berbagai pentas musik dan festival band hingga ke luar kota. “Jaman dulu kita udah pernah diundang manggung ke Kalimantan, dikasih tiket pesawat dan dibayar tiga juta!” ungkap Wahyu GV. Konon Gank Voice juga sempat ditawari kontrak rekaman dan promo tur oleh Loggis records. Sayangnya kesempatan langka tersebut tidak diambil karena mereka memilih untuk menyelesaikan bangku kuliah terlebih dahulu. Band ini kemudian bubar di tengah jalan, dan ber-transformasi menjadi Arema Voice, band yang menciptakan lagu anthem Singa Bola untuk kesebelasan Arema.
Sementara itu dengung musik rock semakin keras, dan metal mulai mewabah. Band-band anyar yang beraliran hardrock, heavymetal ataupun speedmetal mulai bermunculan. Band asing seperti Van Halen, Judas Priest, Iron Maiden, Anthrax, Metallica, Motley Crue, atau Helloween jadi favorit dan pengaruh penting di kalangan anak muda. Hampir semua remaja di Malang hanya punya dua pilihan sederhana; suka musik rock, atau tidak suka musik sama sekali!
GOR Pulosari masih tetap jadi artefak penting dalam hikayat rock & roll lokal. Tak kurang dari Ikang Fawzi, Power Metal, Gito Rollies, Deddy Stanzah, Iwan Fals, Nicky Astria, Ita Purnamasari, Slank, hingga Dewa 19 sempat merasakan sakralnya venue tersebut. Dewa 19 dan Slank tercatat beberapa kali manggung di sana dan tidak pernah sukses. Bahkan Ita Purnamasari dan Nicky Astria pernah pulang menangis setelah menjalani ‘show yang kejam’ di venue itu. Bukti bahwa ‘keangkeran’ Pulosari masih tetap langgeng…
“Jaman dulu, konser rock itu sangat jarang sehingga selalu jadi momen spesial dan tidak boleh dilewatkan,” kenang Bang Jun, seorang veteran penggila musik rock. “Jauh sebelum hari H-nya, semua orang mulai dari musisi sampai fans udah siap-siap dandan pol ala rockstar idola. Biasanya mereka meniru foto-foto atau poster yang ada di majalah Aktuil. Sampai-sampai mereka datang sendiri ke penjahit sambil membawa poster dan bilang kalo mo mesen pakaian seperti yang dipake David Bowie, Alice Cooper, atau Mick Jagger!’
Pada hari pertunjukan, ratusan penonton dengan dandanan hebohnya mulai berduyun-duyun berjalan kaki menuju venue. Mereka langsung mengantri di loket tiket maupun di pintu masuk dengan gemuruh ala penonton sepakbola. Sesampainya di dalam venue, anak-anak muda itu langsung serius menyimak panggung, bersenang-senang, dan siap ‘mengadili’ performance setiap band yang tampil di situ. Kejam!
Menjelang akhir dekade ’80-an, terjadi perkembangan yang signifikan pada peta musik cadas kota Malang. Gemma [Generasi Musisi Muda Malang] muncul sebagai komunitas yang aktif menggelar pertunjukan musik lokal di kota ini. Selain GOR Pulosari, gedung DKM [Dewan Kesenian Malang] di daerah Comboran ikut menjadi alternatif venue yang lain.
Salah satu momen rock yang jadi highlight pada jaman itu adalah serial festival rock yang dimotori oleh promotor eksentrik dari Surabaya, Log Zhelebour. Event itu hampir selalu menempatkan Malang sebagai salah satu kota tempat pertunjukan yang penting. Ajang festival tersebut turut mendongkrak nama grupband lokal, Balance, yang masuk dalam album kompilasi 10 Finalis Rock Festival V produksi Loggis Records [1989].
Sedangkan pertunjukan rock yang paling legendaris adalah konser Godbless dalam rangka tur album Raksasa di Stadion Gajayana [1989]. Show tersebut cukup akbar, megah dan terbilang sukses. Puluhan ribu penonton memenuhi arena rumput dan disuguhi sound system berkekuatan besar – yang bahkan menurut masyarakat sayup-sayup masih terdengar di setiap sudut kota Malang.
Pada putaran generasi band lokal, muncul nama-nama baru seperti Dye Maker, Mayhem, atau Gusar. Ketika itu mereka masih sibuk di studio latihan, menyanyikan lagu-lagu kover, dan manggung di pentas-pentas festival. Bagi kebanyakan band, main musik pada jaman itu memang hanya sebagai hobi pengisi waktu luang semata. Mereka masih memilih untuk memainkan lagu-lagu favorit dari band asing, serta belum terpikir untuk serius berkarir di bidang musik. Setelah beberapa kali latihan dan merasa kompak, mereka biasanya segera mendaftar untuk ikut festival atau pentas musik lokal yang memang sangat marak saat itu.
Di jaman pra-MTV itu, musik rock dan metal sudah mulai mendapatkan ekspos yang ‘memukul’ di hampir seluruh kota-kota besar di Indonesia, tak terkecuali di Malang. Setiap kejadian dan berita musik juga terpublikasikan dengan baik. Media massa bahkan sempat mengklaim kota Surabaya dan Malang sebagai barometer musik rock di tanah air. Tidak bisa dipungkiri bahwa ada peran seorang Log Zhelebour dan proyek-proyeknya sebagai motif utama di balik klaim tersebut – di samping tentunya pertumbuhan band lokal beraliran keras yang kian menjamur, serta antusiasme crowd lokal yang dikenal cukup ‘buas’.
Sekali lagi terbukti, musik cadas tetap menampakkan taringnya di dekade yang penuh warna-warni ini. Sayangnya kejadian-kejadian rock di jaman itu tidak terdokumentasikan dengan baik. Sehingga cukup sulit untuk sekedar mencari selembar foto, apalagi rekaman audio atau video. Namun dari ‘dongeng para veteran’ bisa disimpulkan bahwa gembar-gembor era 80-an sebagai jaman disko/new wave nyaris tidak terasa di kota Malang. Yang berlaku saat itu justru musik rock tetap menjadi raja, dan heavy metal adalah panglima!…
[Samack]
Foto & gambar diambil dari netz & dok Solidrock.
Tulisan ini adalah bagian dari proyek dokumentasi scene rock Malang yang dikerjakan oleh Solidrock. Artikel selanjutnya [era awal 1990-an] akan dimuat kemudian. Wait and bleed…


sumber: https://apokalipwebzine.wordpress.com/2010/07/22/sebuah-peradaban-dari-bawah-tanah-kota-malang-ii/

SEBUAH PERADABAN DARI ‘BAWAH TANAH’ KOTA MALANG [PART 1]

Sebuah Peradaban Dari Bawah Tanah Kota Malang [1]


ian antono
Benarkah kota Malang sudah rock & roll sejak tempo doeloe? Seperti apa iklim scene musik dan komunitas penggemar musik keras di wilayah lokal pada jaman baheula? Siapa saja pionir yang bertanggungjawab atas ‘kecadasan’ di kota dingin ini? Ini catatan historis tentang perkembangan budaya musik cadas dan komunitasnya di kota Malang. Halaman pertama dari peradaban lokal seni musik dan revolusi rock & roll yang masih terus bekerja…

Periode Pemecah Es [1970-an]


Sebenarnya benih-benih rock & roll di kota Malang sudah muncul sejak awal era ’60-an, ketika bocah berusia sebelas tahun, Abadi Soesman, untuk pertama kalinya membentuk grupband bernama Irama Abadi, 1 April 1960. Masyarakat dunia saat itu sedang dihinggapi wabah musik rock & roll yang dipelopori oleh Elvis Prestley, Chuck Berry, dan The Beatles. Trend tersebut menyeberang ke Indonesia dan ikut meracuni selera anak-anak muda negeri ini.
Namun seperti yang kita ketahui, memainkan musik rock pada era orde lama masih dianggap tabu. Bentuk kesenian yang kebarat-baratan sangat dibatasi geraknya. Para musisi dan seniman otomatis susah berkembang serta makin terpojokkan. Rezim pemerintah terus mendorong masyarakat untuk menjauhi musik rock. The Beatles dilarang, bahkan Koes Plus dipenjara. Rambut panjang diharamkan, dan musik rock disebut ‘musik setan’.
Anak-anak muda yang berniat untuk main musik dicap tidak punya masa depan. Mereka hampir selalu dilecehkan oleh para generasi tua, terutama calon mertua. “Dulu, pemusik adalah derajat paling rendah, dan sedikit naik tingkat setelah heboh narkoba,” ungkap Abadi Soesman ketika diwawancarai Kompas, November 2006 lalu.
Malang hanyalah kota kecil yang jauh dari gemerlap industri musik seperti halnya Jakarta. Banyak remaja yang ingin sekedar main band, namun terganjal pada sarana alat musik yang mahal dan terbatas. Beberapa grup musik baru bisa berlatih dan manggung setelah didanai oleh perusahaan besar. Sebut saja nama Bentoel band atau Oepet band, yang disponsori pabrik rokok terbesar di Malang. Sejumlah band lainnya seperti Zodiak, Panca Nada, Arulan, atau Swita Rama, rata-rata juga milik perusahaan tertentu. Iklim bermusik seperti itu dirasa cukup menyedihkan serta kurang menjanjikan bagi para musisi lokal.
Selera kuping arek-arek Malang pada jaman dulu tidak pernah bergeser jauh dari genre musik keras – mulai dari yang bernuansa hardrock, slowrock, folk-rock, art-rock atau psychedelic rock sekalipun. Komposisi musik seperti yang dimainkan Led Zeppelin, Genesis, Rolling Stones, Janis Joplin, The Doors, Uriah Heep, Yes, Deep Purple, Rainbow, Pink Floyd, Rush, atau Queen adalah beberapa nama paten yang sangat digilai anak muda Malang.
“Dulu semua band di Malang memang rock. Saya dan Ian Antono punya filosofi yang sama, dan kami bersatu karena musik rock,” tutur Abadi Soesman seraya menyebut nama salah satu legenda musik rock kelahiran Malang yang paling terkenal hingga sekarang.
Ian Antono lahir di Malang, 29 Oktober 1950, dengan nama asli Yusuf Antono Djojo. Sewaktu kecil ia sempat memegang instrumen ketipung dalam suatu band bocah beraliran melayu. Ian yang saat itu menyukai lagu-lagu dari The Shadows atau The Ventures, kemudian memperkuat band keluarga Zodiacs bersama kakak-kakaknya.
Pada tahun 1969, Ian hijrah ke Jakarta bersama Abadi Soesman dan bermain musik di Hotel Marcopolo. Dua tahun kemudian ia kembali ke Malang untuk bergabung dengan band Bentoel sebagai pemain drum, yang lalu beralih ke gitar. Saat itu ia mengaku terpengaruh oleh Deep Purple, Alice Cooper, Jethro Tull, Edgar Winter, dan James Gang – serta meniru segala gaya mereka mulai dari penampilan fisik, kostum, aksi panggung, bahkan sampai ke cara bermusiknya.
Bentoel kemudian menjadi salah satu kelompok musik rock yang paling populer di kota Malang. Barisan yang dimotori vokalis Micky Jaguar dan drummer Ian Antono itu terkenal eksentrik dan selalu penuh kejutan. Pada tahun 1972, mereka diundang tampil membuka konser Victor Wood di Gelora Pancasila, Surabaya. Dalam kesempatan tersebut, Micky Jaguar melakukan atraksi panggung yang sensasional. Sembari menyanyikan lagu John Barlecon [Traffic], ia menyembelih seekor kelinci dan meminum darahnya. Gara-gara atraksinya itu, ia terpaksa berurusan dengan pihak berwajib.
Sayangnya Bentoel tidak berumur panjang dan tidak sempat merekam apa-apa. Pada tahun 1974, Ian Antono diminta Ahmad Albar untuk kembali ke Jakarta dan bergabung dengan Godbless. Di kelompok itu, Ian mulai coba-coba menulis lagu dan menata musik untuk album Huma di Atas Bukit [1976]. Baginya, ada semacam proses transformasi dari sekadar bermain menuju ke tahap penciptaan. Hingga kemudian nama Ian Antono juga dikenal sebagai penulis lagu dan penata musik untuk sekitar 400-an lagu yang dimainkan Godbless, Duo Kribo, Ucok Harahap, Nicky Astria, Iwan Fals, Anggun Cipta Sasmi, hingga Grace Simon.
Sementara itu, bubarnya Bentoel memaksa vokalis Micky Jaguar bergabung dalam Ogle Eyes, grup musik yang juga diperkuat oleh mantan personil Giant Step [Bandung], keyboardist Jocky Soerjoprayogo dan drummer Sammy Zakaria. Ia juga sempat memulai karir solonya dengan merekam album bertitel Metropolitan [Prawita records]. Pada rilisan tersebut, ia berduet dengan Sylvia Saartje di lagu yang berjudul Wanita. Saat ini, kaset solo Micky Jaguar menjadi barang langka dan collector item yang bernilai tinggi.
Nama sang ladyrocker, Silvia Saartje, tentu cukup populer bagi penggemar musik rock lokal. Penyanyi rock kelahiran Arnheim [Belanda] yang bermukim di Malang ini sempat tenar lewat singel Biarawati ciptaan Ian Antono. Di kala manggung, perempuan ini selalu memakai kostum yang agak seronok dan menghebohkan. Salah satu pentasnya yang paling diingat publik Malang adalah ketika membantu Elpamas dalam mengkover lagu Pink Floyd yang terkenal sangat rumit, The Great Gig In The Sky. Selama karirnya, Sylvia Saartje telah menelurkan tujuh buah rekaman. Ia juga sempat tampil sebagai penyanyi dalam film Kodrat garapan Slamet Raharjo. Beberapa tahun terakhir ini, namanya terkadang masih mondar-mandir mengisi program musik rock dan blues di sebuah stasiun televisi.
Selama era ’70-an, beberapa musisi lokal mulai terpikir untuk hijrah ke ibukota. “Dulu, Jakarta itu seperti luar negeri,” kenang Abadi Soesman. Sebagai pusat industri, Jakarta memang menarik dan lebih terbuka bagi peluang karir di bidang musik. Mitos klasik bahwa musisi daerah kalau ingin sukses musti hijrah ke ibukota memang tidak bisa dipungkiri, dan hampir benar adanya. Sentralisasi industri musik nasional malah cenderung melanggengkan keabsahan rumus yang terkadang masih berlaku hingga sekarang itu.
Sementara evolusi rock & roll di kota Malang terus berjalan. Band-band baru bermunculan dari berbagai ajang festival dan parade musik lokal. Aksi mereka juga selaras dengan kebiasaan band rock nasional generasi awal – seperti Cockpit [Jakarta], Trencem [Solo] Godbless [Jakarta], Giant Step [Bandung] atau AKA/SAS [Surabaya] – yang lebih sering membawakan karya lagu musisi luar dan cenderung malas menulis lagu sendiri. Makanya hanya sedikit sekali rekaman album bahkan sekedar demo yang dirilis pada jaman itu.
Selera pasar dan kebiasaan musisi yang terlalu ‘memuja band asing’ itu akhirnya memberi imbas di setiap pertunjukan musik. Penonton hampir selalu menuntut band yang tampil di panggung untuk bermain ‘persis kaset’ istilahnya. Mereka hanya ingin mendengar lagu favoritnya dan tidak peduli pada lagu ciptaan musisi lokal. Akibatnya, hanya sedikit band yang mau menulis dan mengusung karya ciptaannya sendiri. Selebihnya tidak ada jalan lain kecuali tampil sempurna membawakan lagu kover yang jadi favorit penonton.
Kondisi di atas membuat sejumlah band lokal menjadi band spesialis yang identik dengan band asing panutannya. Misalkan saja Micky Jaguar layaknya seorang Mick Jagger dengan gaya urakan ala Ozzy Osbourne. Bahkan Sylvia Saartje sempat dianggap titisannya Jonis Joplin. Hingga musisi yang lebih yunior macam Elpamas yang hanya akan mendapat aplaus jika membawakan komposisi dari Pink Floyd.
“Wah, sejak dulu Malang itu kota yang paling ditakuti ama band-band Jakarta. Penontonnya kritis, salah dikit aja langsung ditimpukin!” ujar Jaya, gitaris grupband Roxx yang sempat ditemui penulis saat event Soundrenaline 2004 di Stadion Gajayana Malang. “Malah dulu belum layak disebut rocker kalo belum pernah konser di Malang. Emang terbukti, aura rock-nya masih terasa banget sampe sekarang!”
Sudah banyak kisah musisi rock lokal maupun nasional yang coba ‘menaklukan’ hati dan telinga penonton Malang yang terkenal agak liar dan suka rusuh. Sebagian memang cukup berhasil, namun lebih banyak di antaranya yang gagal total. Band yang tidak mampu memuaskan penonton akan sangat beruntung jika hanya mendapat cemooh dan caci-maki saja. Sebagian malah bernasib lebih buruk, menerima lemparan benda-benda aneh dari penonton dan dipaksa turun dari panggung.
Sejak era ’70-an, tempat pertunjukan [venue] yang sering dipakai ajang konser rock adalah GOR Pulosari yang terletak di bilangan jalan Kawi. Desain arsitektur gedung tersebut cukup unik dan sangat ‘bawah tanah’ sekali. Venue itu dibangun pada cerukan tanah yang dalam, serta dikelilingi tribun kayu yang mengelilingi panggung besar di bawahnya. Konstruksi seperti itu menjadikan GOR Pulosari sebagai hall yang kedap suara, serta dianggap memiliki akustik yang cemerlang untuk sebuah pertunjukan musik. Sejumlah nama mulai dari Panbers, Trencem, Bentoel, Cockpit, Sylvia Saartje, hingga Godbless sudah pernah menjajal GOR Pulosari yang dikenal sangat prestisius untuk konser musik rock.
Cockpit termasuk band yang sempat mendulang histeria massa ketika tampil di Pulosari. “Wah, dulu kalo Cockpit manggung bawain lagunya Genesis, vokalis Freddy Tamaela gak perlu nyanyi lagi, sebab penonton satu gedung udah nyanyi semua saking hapalnya!” cerita beberapa orang lawas yang pernah mengalami serunya pertunjukan musik lokal tempo doeloe. Di lokasi yang sama, Micky Jaguar pernah meminum darah kelinci dan langsung ditahan aparat begitu turun dari panggung. Boleh dibilang, manggung di GOR Pulosari bisa menjadi pengalaman terbaik atau yang terburuk bagi setiap musisi manapun.
Angkernya venue yang berkapasitas 5000 penonton itu juga diamini oleh Viva Permadi alias Wiwie GV, seorang musisi/aranjer asal Malang. Dalam wawancaranya dengan Kompas [12 November 2006], ia menganggap GOR Pulosari ibarat pengadilan publik untuk menilai sukses atau tidaknya sebuah band ketika manggung. Ia terkenang sewaktu Godbless manggung di sana pada tahun 1979. Penonton ketika itu tidak puas dengan penampilan Ahmad Albar dkk. Mereka lalu mengamuk dan melempar apapun ke arah panggung. Akhirnya ia mengambil kesimpulan, kalau sebuah band pentas di Malang sampai tidak rusuh, berarti grupband itu berhasil.
Pada dasarnya, dekade ’70-an telah mencatat suatu babak awal yang seru dari evolusi rock & roll di kota Malang. Munculnya berbagai aktifitas band dan musisi rock, pertunjukan musik, penonton konser yang seru [dalam konotasi yang aman maupun rusuh!], atau sekedar hura-hura urakan ala anak muda telah membuka wacana baru bagi masyarakat awam. Perlahan, publik mulai mengenal konsep ‘rock & roll’ baik secara musikal, penampilan, maupun pola pikir. Stigma dan dogma kuno telah mencair. Atau mungkin akan membatu kembali dalam suasana yang lebih baik di masa yang selanjutnya…
 
[Samack]
Foto & gambar diambil dari netz & dok Solidrock.


Tulisan ini adalah bagian dari proyek dokumentasi scene rock Malang yang dikerjakan oleh Solidrock. Beberapa data dan kutipan diambil dari Kompas Cyber Media. Oke, nantikan artikel selanjutnya [era 1980-an] yang akan tayang dalam waktu dekat. Simak root-nya, mungkin anda bisa belajar dari sejarah!…
 
SUMBER:https://apokalipwebzine.wordpress.com/2010/07/16/sebuah-peradaban-dari-bawah-tanah-kota-malang-1/

13 Maret 2014

Top Football Casual Brands

Lyle & Scott

Lyle & Scott is a comeback brand to the Football Casual scene. Having originally made their name in the golf wear market they have developed ranges of polo shirts and jumpers which made them one of the hottest brands on the terraces during the boom of 80's casual culture. The brand was first spotted as mainly v-neck jumpers which were worn over t-shirts or long collar shirts.
The golden eagle motif is now one universally recognised as being the stand out icon of the Lyle & Scott brand. Unfortunately, Lyle & Scott, despite its links to the past, is now no longer a credible brand at this time in the UK. However, we believe it has every chance of making a comeback once the 'Parrotheads' have got bored and moved onto something else.



Stone Island

Stone Island was founded in 1982 by Massimo Osti who was inspired by his love of sailing, and hence where the famous compass motif originated from. In the nineties and noughties, if you were serious about about having a row - this was the brand to be seen in. It's robust design, hard wearing fabric and high quality finish had made this brand a mainstay in Football Casual fashion.
The compass motif badge is an optional button-on with the jackets. Although historically a status symbol amongst the Football Casual crowd, the brand can now be seen more widely in popular culture and therefore is rapidly losing it's status amongst the Football Casual elite. Some fear the saturation of fakes on eBay have damaged the brand beyond repair.



Lacoste

Lacoste has historically made it's name through tennis - it's founder was French tennis star René Lacoste who launched the clothing company in 1933.
Having diversified through the years to incorporate more clothing lines, Lacoste had a crisis of confidence in the 70's and 80's - just as the brand was becoming prominent on the football terraces. However, it is still very much an essential brand in the Football Casual wardrobe. Acceptable as sweaters, knits - or most popularly polo shirts. The green crocodile motif came from René's nickname "Le Crocodile".



Aquascutum

Aquascutum got it's name from the latin for 'water shield'. During the First and Second World Wars, the company had successfully developed showerproof wool techniques - making their garments robust and light.
The brown and blue Aquascutum check came to prominence in the 1970's and is now widely associated with the brand. In recent years the brand has done it's utmost to distance itself from the 'hooligan' association. One of it's most recent collections features Pierce Brosnan - as if to highlight it's aim to attract the Marks & Spencers generation. Despite their attempts at mediocrity, many of the products stand the test of time in Football Casual culture due to their sheer quality.



Hackett

Jeremy Hackett moved to London and worked in the fashionable King's Road before accepting a position at a tailors shop on Savile Row. Through this he met up with Ashley Lloyd-Jennings, who shared similar tastes, and between them they decided to start Hackett.
With a firm foothold in the Polo wear market, this is the area in which the Football Casual came into contact with the brand. The Hackett polo shirt has been synonymous with Football Casual culture of recent years, despite Mr Hackett himself not being particularly happy with that fact.

Fred Perry

Similar to Lacoste, Fred Perry has it's origins in tennis shirts and was founded by a star of the sport. When the fledgling mod movement of the 50's and 60's took off, Fred Perry actively promoted themselves as a fashion brand by adapting to the requests of the market, becoming widely accepted by off-shoots such as ska and skinheads.
By actively embracing the fashion market of those consumers who enjoyed the durability of the honeycomb cotton fabric and it's smart aesthetics, Fred Perry has long been a staple brand of the Football Casual diet. However, by diversifying in recent years into the lower-end market, it has somewhat devalued the brand.The polo shirts are still iconic lines of clothing and credible football fashion items.



Sergio Tacchini

Another former tennis star, Italian Sergio Tacchini launched his designer clothing brand in 1966. The brand came to real prominence in the 70s and 80s when the likes of Jimmy Connors, Ilie Nastase and John McEnroe started to wear the colourful attire on court.
Sergio Tacchini soon become a fashionable brand on the Football Casual scene in the 80s as the interest in high-end European sportswear began to take root on the terraces of Britain. The brand enjoyed a revival on the terraces after the release of "The Busines" with casuals who love the vintage 80s sportswear look.



Adidas

One of the world's biggest sports brands is adidas. This in itself would put off some sub-cultures, but what adidas offer the Football Casual is something unique. A sub-culture within a sub-culture. Their back catalogue of trainers are hugely sought-after collectables and are the ultimate accessory. The rarer the better in terms of Football Casual culture.
Although perfectly acceptable in the form of vintage footwear, it doesn't apply to all ranges of clothing. I would recommend seeking out Samba, Trimm Trab, Munchen, Stan Smith, SL72, Italia, Gazelle and Forest Hills as a good base to start from.
Although wearing a pair of chunky climacool is probably comfortable but it isn't Football Casual.



Burberry

Little did the 21 year old Thomas Burberry know that when he opened his first shop in Basingstoke, Hampshire in 1856 that over 150 years later his surname would be synonymous with the badge of the chav - the Burberry Check.
Before being brutalised by the media, Burberry was very much a credible brand for the Football Casual. The Burberry Check, used in subtle quantities, was a statement of style. Unfortunately, the rise of the chav and their moody fakes has meant that the check is no longer an acceptable addition to the wardrobe. However, Burberry have been working hard to to reduce their use of the pattern, and have concentrated on going back to basics. We believe that Burberry can still be credible, but stay clear of the check.




Henry Lloyd

Henri Lloyd was established in Manchester in 1963, to cater for yachtsmen and sailors looking for robust sailing wear.
Its arrival on the Football Casual scene seemed to have come to prominence in the 90's, as more and more Football supporters were looking for stylish brands that had roots in other sports which could be introduced as credible brands on the football terraces.


Pringle

Pringle was established as Waldie, Pringle & Wilson in 1815, and have spent the past 190 odd years developing one of Scotland's most iconic brands. Pringle developed it's heritage through golf wear like fellow Scottish brand Lyle & Scott.
Pringle was at the height of it's popularity with the Football Casual back in the 70's and 80's when the likes of Tony Jacklin, Jack Nicklaus and Gary Player sported the popular v-neck jumpers out on the golf course. The brand went a little stale in the 90's in terms of the Football Casual scene, but is now a popular brand amongst vintage lovers.

Fila

Fila was founded in 1911 by the Fila brothers who were looking to cater for people who lived in the Italian Alps. The brand come to prominence in the 70's when they endorsed Tennis superstar Björn Borg.
In the 80's Fila BJ track tops and polo shirts were very popular within the Football Casual scene, and have enjoyed a recent revival after being featured alongside another 80's favourite Sergio Tacchini, in the film "The Business". However, they are another brand whose licensing into other lines such as cheap trainers and socks have somewhat devalued their cachet. However, the vintage ranges still have kudos.



Polo Ralph Lauren

The label Polo was originally founded in 1968 as a necktie business by Ralph Lauren. Since then the company has become known as Polo Ralph Lauren and has become a multi-billion dollar fashion empire.
Polo Ralph Lauren's philosophy has been based on creating long-term durable fashion wear. This approach has developed a respect from the Football Casual for the polo shirts and casual shirt ranges in particular.





C.P. Company

Chester Perry as the company was originally called, was setup in 1975 with the view of bringing together the simplicity and style of working class attire with a military robustness. It's unique approach to adding as much individuality as possible to each garment and using non-conventional fabrics, quickly gave rise to their popularity within the Football Casual scene.
Regularly spotted in the 80's, it wasn't long before every self-respecting casual had one or more pieces from the brand. Now part of the Stone Island family, C.P Company seems to be the more favored of the two brands these days. The natural, and some would even go as far to say better quality successor to the former king of the casual brands - Stone Island.



One True Saxon

ONETrueSaxon is a brand that was established in 1998 by a number of former Paul Smith employees. Basing themselves in Nottingham, the heart of England, their clothing took pride on the patriotism of Englishness and incorporated the heart of England itself.
Although the brand has been probably more popular in the Midlands and in the North of England, many Football Casuals alike have appreciated the simplicity of the designs and quality durable fabric. OTS was once a brand enjoyed almost exclusively within Football Casual culture - but has now entered the mainstream. Fears that the brand's recent addition to the Littlewoods Catalogue may spell the end of the high-end quality appear to be a little premature. Mass-market production and marketing doesn't have to be detrimental to the brand, providing cut, design and fabric quality doesn't drop.
Ben Sherman

Ben Sherman is a foundation brand of mod culture, and then subsequently found it's way into Football Casual subculture. It was founded in 1963 by Arthur Bernard Sugarman, who had changed his name to Ben Sherman whilst living in America 17 years earlier.
It was the first company to produce the famous Oxford button-down shirt, which became a fashion staple for mods, skinheads and suedeheads. It has been around for almost 50 years within various lad cultures one way or another. However, since the 90's over-saturation of the checked shirt - it has now become passe and rarely seen within UK firms - althogh still popular in some European countries.



Paul Smith

Paul Smith is a fashion designer from Nottingham who opened his first store in 1970. Ever since then, his approach to menswear has been universally appreciated. The philosophy of melding simplicity with quality has earned the brand a worldwide reputation.
Paul Smith has been a peripheral brand in Football Casual culture since the 80's and continues to be popular even today. Although now mainstream, many Casuals are loyal to the classic British styling.

Paul & Shark

Paul & Shark was founded in 1921 in Varese, Italy. The men's sportswear arm of the company was launched in 1977, and has been a popular brand on the Football Casual scene ever since.
The brand was first spotted in the mid to late 80's and is now a staple brand, particularly with firms based in the north. It's arguably a more popular brand on the continent, but has a continuously loyal fan base in the UK. The sweaters, with their simple styling and subtle branding, make this particular range of clothing very popular amongst many of the Casuals.


Fjällräven

Fjällräven was founded in 1950 by Åke Nordin and is a Swedish company. Fjällräven translates as 'Arctic Fox'. They specialise in outdoor equipment, but mainly focus on clothing. The original idea of creating clothing from tent fabric proved to be a master-stroke. Over the years it has developed it fabrication processes, introducing beeswax and other formulants, to create it's now famous G-1000 fabric - completely waterproof, dirt repellent and highly robust.
Fjällräven is a relative newcomer to the Football Casual scene, where its appearance as a brand in the nineties started to gain in popularity. By the noughties the 'Greenland Jacket' was spotted on a regular basis. Other highlight jackets are the "Telemark","Nordli","Montt" and "Amazon".



New Balance

In 1906, William Riley, a 33 year old English expatriate, founded the New Balance Arch Support Company. Originally specialising in arch supports, the company didn't make its mark until 1961 when they launched a shoe called the 'Trackster' - the world's first running shoe with a ripple sole. Also, it was the first running shoe to be offered in varying widths and soon became a favourite with running coaches and athletes. Its success at that point was purely down to word of mouth, until in 1972 when Jim Davis bought the company. It's Boston heritage allowed the company to catch the running boom of the 80's where it prospered at the height of the jogging phenomenon. Today, 40% of all New Balance's European trainers are made in England.
New Balance was a peripheral Football Casual brand from the 80's, and although couldn't break the adidas stranglehold as a whole, was still a credible addition to the wardrobe. Since then the shoes have become favourites for indie kids, skater types and parrot heads and it's popularity amongst casuals has faded as a result. It's sleek, light and retro design - as well it's durable sole and varying widths really make this brand a real favourite.



Barbour
J Barbour & Sons were established in South Shields in 1894 by Scotsman John Barbour. Originally a maker of drapery, Barbour expanded into clothing as the docking and fishing industries were flourishing in the North East of England in the early 1900's. Still a family-run business, Barbour has developed it's reputation by branching into other markets such as clothing for fishermen, farmers, hunters and country gents. Barbour's reputation for creating durable garments is legendary.
Barbour is a brand that was spotted in Football Casual culture as early as the 1980's. The Wax Cotton which Barbour has built it's reputation on, took a while for many Casuals to be comfortable with as the brand was so strongly associated with toffs and country types. For the last twenty years or so Barbour's reputation for quality and durability has made it a growing favourite in many a casual's wardrobe. Highlight jackets include the classics "Beaufort","Northumbria" and "Liddesdale".