• MALANG KUçEçWARA‬ • MALANG NOMINOR SURSUM MOVEOR • MALANG BELONGS TO ME •

20 November 2015

KISAH SEJARAH KOTA MALANG YANG TAK BANYAK TERUNGKAP (Part 4)

Empat Tahun Pemerintahan Kota Ngurusi Ke Bantur
Kondisi Kota Malang luluh lantak  dalam peristiwa bumi hangus tahun 1947, Pemerintah Kota Malang pun morat-marit dan pegawai dibagi dalam dua kelompok. Dan, tahukah jika pemerintahan kota sempat pindah ke Bantur, Malang Selatan. Mengapa itu dilakukan? Serta berapa bangunan yang hancur dalam peristiwa 1947?
Kalau Bandung lautan api ada lagunya, sedangkan Malang tidak punya. Jadi kurang dikenal atau kalah ngetop dengan Bandung. Semua tahu pada 1945 Indonesia sudah merdeka, tapi masih belum sepenuhnya diakui oleh dunia internasional.
Sehingga Belanda masih mengklaim sebagai negara jajahannya setelah direbut Jepang tahun 1942. Dua tahun setalah itu, Belanda memutuskan untuk kembali menguasai daerah Jatim, khususnya Malang. Karena sesuai sifat dasarnya sebagai daerah pertahanan, Malang harus dikuasai dulu baru kota lain.
Kota Paling Aman, Tokoh Nasional Berkumpul Dalam Kongres KNI
Namun, peperangan yang hanya memakan waktu beberapa hari itu mengubah wajah kota dan menorah tinta sejarah yang demikian dalam. Detik-detik peristiwa tersebut  sangat menegangkan. Jika skenarionya diadopsi menjadi sebuah naskah film, maka akan menjadi film kolosal yang menegangkan.
Peristiwa tersebut berawal pada 31 Juli 1947 sekitar pukul 03.00. Tentara Belanda melakukan penyerangan yang sangat hebat di Kota Malang sampai akhirnya status Malang yang sebelumnya kota merdeka, kembali menjadi kota pendudukan Belanda.
Peristiwa tersebut dikenal dengan nama aksi militer atau Crash I. sebelum kedatangan pasukan Belanda di Malang, hampir 1.000 bangunan Belanda dibumihanguskan termasuk Balai Kota Malang (Bleed van en Stad) dan pemerintahan kota dipindah sementara ke Palace Hotel (sekarang Hotel Pelangi).
Selanjutnya pegawai dibagi menjadi dua golongan, golongan luar kota, dan golongan yang berjuang di dalam kota. Setelah dirasa kondisi sangat tidak memungkinkan, sebagian besar pindah ke Sumberpucung dan Gondanglegi. Pemerintahan kota akhirnya juga dipindah di Bantur sampai terjadi Clash II pada 1948.
Pejuang yang tergabung dalam tentara pelajar TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) banyak yang gugur  meninggalkan bekas ‘massagraf’ di Jalan Salak (Jalan Pahlawan Trip). Rakyat sendiri mengungsi ke daerah selatan (Tumpang, Wajak, Turen, Gondanglegi, Pakisaji, Kepanjen sampai Blitar) dan daerah barat (Batu, Pujon, dan Ngantang) sampai penyerahan kedaulatan pada 27 Desember 1949.
Sebelumnya pada September 1949 beberapa orang dari Malang Selatan, antara lain Letkol Dr. Soedjono diundang ke Surabaya untuk menerima pengembalian daerah karesidenan Malang termasuk Kota Malang. Pemerintahan Kota Malang kembali di gedung balai kota pada tanggal 2 Maret 1950.
Sementara itu ketentaraan dan kepolosian telah mendahului memasuki kota dan bermarkas di Hotel Trio (bekas kantor dispenda depan Stasiun Kota Baru). Dari perintiwa itu telah memunculkan nama-nama pahlawan lokal, antara lain Hamid Roesdi.
Hamid Roesdi, Pahlawan Tiga Masa
Hamid Roesdi dikenang sebagai sosok pahlawan tiga masa. Yakni, masa penjajahan Belanda, Jepang, dan kemerdekaan yang sangat konsisten memperjuangkan hak-hak rakyat. Beliau lahir pada Senin Pon 1911 di Desa Sumbermanjingkulon, Pagak, Kabupaten Malang.
Pada masa penjajahan Belanda, dia sangat aktif di bidang kepanduan dan tergabung dalam “Pandu Ansor”, karena beliau juga seorang guru agama sekaligus staf Partai NU. Beberapa tahun kemudian bekerja di Malang sebagai sopir di Penjara Besar Malang (LP Lowokwaru).
Pada 8 Maret 1942 Jepang memasuki Kota Malang dan mulai memerintahkan membuat barisan Heiho, Seinedan, Keibodan, dan Djibakutai sekaligus melakukan tekanan fisik pada rakyat. Melihat situasi itu, Hamid Roesdi keluar dari pekerjaannya dan memulai membela nasib rakyat dengan menyusup ke PETA (Pembela Tanah Air) pada 1943 yang dibentuk atas usul Gatot Mangkupraja. Dia ditugaskan di Malang dengan pangkat Sudanco (Letnan I).
Selain berlatih militer, dia juga sibuk mempersiapkan lascar rakyat untuk menentang Jepang. Pada malam hari tanggal 3 September 1945 diumumkan daerah Karesidenan Surabaya masuk wilayah RI, Hamid Roesdi mulai melucuti tentara Jepang di Malang. Pada 1946 menjabat sebagai perwira staf Divisi VII Suropati dengan pangkat mayor dan bertempat tinggal sementara di Jalan Semeru (sekarang Bank Permata).
Dianggap berhasil menangani pelucutan tentara Jepang, kamudian diangkat sebagai Komandan Balyon I Resimen Infanteri 38 Jawa Barat dan menyelesaikan pertempuran di sana dengan sukses. Sekembalinya dari Jawa Barat dinaikkan pangkatnya letnan colonel menjadi komandan pertahanan daerah Malang di Pandaan-Pasuruan.
Pada Clash I 1947 Hamid Roesdi dengan gigih memimpin pasukan mempertahankan Kota Malang dari Tentara Belanda. Sebelum Belanda memasuki Pandaan, Hamid Roesdi berkeliling kota menaiki jeep untuk memerintahkan seluruh rakyat membumihanguskan bangunan Belanda.
Ketika Kota Malang tidak dapat dipertahankan lagi, beliau membuat pertahanan di Bululawang dan menyusun strategi merebut Malang kembali. Tengah malam, 8 Maret 1949, kondisi perang sangat genting. Hamid Roesdi datang dan berpamitan pada istrinya, Siti Fatimah. Itulah pertemuan terakhir dengan istrinya dan tidak pernah kembali lagi selama-lamanya (biografi pahlawan Hamid Roesdi, Bintaldam V Brawijaya 1989).
Istilah Perwira Dan Taruna Lahir Dari Malang
Selain pahlawan Hamid Roesdi, peran penting dalam pertempuran 1947 adalah pasukan TRIP yang tergabung dari beberapa sekolah. Pada saat pendudukan Jepang di Jawa Timur 1942, telah banyak pelajar yang aktif mengikuti latihan perang-perangan di sekolah. Dan setelah Jepang menyerah terjadi pelucutan senjata, lahirlah organisasi-organisasi pelajar di Surabaya. Saat insiden bendera di Oranje Hotel 19 September 1945, para pelajar mulai aktif dan mulai mengeluarkan perintah tempur. Pada 5 Oktober 1945 terbentuklah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pelajar, selanjutnya berubah menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) pelajar dengan komandan Mas Isman dengan Batalyon 1.000-5.000 meliputi Surabaya, Mojokerto, Bojonegoro, Madiun, Kediri, Blitar, Jember, dan Malang.
Pada tahun 1949 kekuasaan TRIP berpusat di Blitar. Kapten Sukamto ditunjuk sebagai local joint committee united nation. Dan pada 1949-1950 TRIP Jawa Timur dimobilisir lewar Brigade 17 (Kopex 17). Di malang terdapat monumen perjuangan TRIP untuk menghormati tentara pelajar yang menjadi korban pertempuran di Jalan Salak (Jalan Pahlawan TRIP) melawan Belanda pada 31 Juli 1947. Sekarang monumen tersebut berdiri tegak di sekitar Jalan Ijen berdampingan dengan monumen Melati yang berada tepat di poros Jalan Ijen dengan tinggi 7 meter dengan bunga Melati di pundaknya.
Monumen ini adalah bentuk penghargaan terhadap sekolah darurat awal pembentukan TKR (sekarang TNI) di daerah yang diberi nama Sekolah Tentara Divisi VIII pada tahun 1946. Namun Divisi VIII berganti nama menjadi Sekolah Tentara Divisi VII Suropati dengan simbol melati.
Di Malang sekolah ini lebih dikenal dengan nama Sekolah Kadet Malang, karena siswanya biasa disebut dengan Kadet. Gagasan pendirian sekolah ini berawal dari Kepala Staf Operasi Divisi VIII Mayor Mutakad Hurip setelah beliau pulang dari pertempuran di Surabaya yang pertama atau sebelum meletus pertempuran kedua 10 November 1945.
Pembukaannya diumumkan oleh Mayor Jendral Imam Sujai selaku komandan divisi VIII pada awal Novemnber 1945. Ditegaskan lulusan Sekolah tentara Divisi VII Malang sama dan sederajat dengan akademi militer di Yogyakarta. Istilah Perwira pengganti Opsir dan istilah Taruna pengganti Kadet diakui nasional juga terlahir dari Malang. Karena Kota Malang dalam bidang istilah bahasa memang selangkah lebih maju.
Hal ini dapat dilihat pada syair lagu mars kadet Malang yang berjudul “Mars Taruna Perwira” (Moehkardi, 1979:192). Sekolah Tentara mula-mula menempati bekas gedung Meisjes HBS, beberapa bulan kemudian pindah ke gedung Eropees che Lagere School (Susteran Corjesu) dan setelah sekolah ini benar-benar tidak mampu menampung peminat, akhirnya pindah ke bekas Asrama Marine Belanda di Jalan Andalas, kompleks Angkatan Laut sampai tahun 1947.
Jika kita mengingat apa yang telah terjadi pada 1947 memang telah mengubah wajah sejarah Kota Malang. Betapa tidak, hampir 1.000 bangunan dihancurkan, semua infrastruktur harus dimulai dari awal. Hampir semua sarana dan prasarana setelah tahun tersebut tidak berfungsi.
Semua berfikir sepertinya peperangan berlangsung terus tanpa ada habisnya dimulai 1942. Ternyata banyak juga peristiwa membanggakan yang juga sangat memberikan dampak positif kepada nama besar Kota Malang. Salah satu peristiwa penting yang diselenggarakan di gedung Concordia Malang ini adalah Kongres KNI Pusat.
Rapat besar cikal bakal DPR-RI tingkat nasional ini membuktikan bahwa Kota Malang sangat layak menjai tempat diselenggarakannya even nasional itu terutama dari sisi keamanannya. Mengingat saat itu hampir semua wilayah di Indonesia tidak terjamin keamanannya karena pasukan Belanda menginginkan kembali daerah jajahannya.
Rapat besar ini diadakan pada 25 Februari sampai 5 Maret 1947 membahas masalah-masalah penting yang menjadi agenda perjuangan bangsa Indonesia. Saat itu dengan dihadiri tokoh-tokoh, Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Edward FE Douwes Dekker (Dr. Setyabudi), Ki Hajar Dewantoro (pendiri Taman Siswa), Dr. Soetomo, Panglima Soedirman, Bung Tomo dan para pembesar wakil negara-negara di dunia.
Rakyat berkumpul dan mengelu-elukan kehadiran para tokoh di depan Stasiun Kota Baru sampai di depan gedung Corcodia ini. Jan Bouwer dari Nieuwsgier menulis di media internasiional, “De ontvangst der buitenlandsche gasten was allervoorkomendst en niets werd nagelaten om het hun zoo aangenaam mogelijk te maken”. Penerimaan terhadap tamu luar negeri sangat manis dan segala sesuatu diusahakan untuk menyenangkan mereka sedapat mungkin. Rupanya nama besar Kota Malang menjadi daya tarik tersendiri sebagai tempat penyelenggaraan dengan dibuktikan jumlah tamu yang diundang 1.000 orang, tapi tamu yang hadir lebih dari 1.500 orang.
Semua penginapan dan hotel di Malang dan Batu penuh sesak, bahkan tidak jarang tamu peserta masih ingin tinggal lebih lama setelah acara usai. Malang bumihangus adalah sisi kelam sejarah Kota Malang yang mau tidak mau harus diketahui oleh masyarakat sebagai bahan pembelajaran bahwa Malang tidak pernah menyerah dalam mempertahankan kotanya.
Kota Malang selalu bersatu meskipun terdiri dari beberapa suku, ras, dan pendidikan. Sekarang adakah sifat-sifat dasar masyarakat dan Pemerintah Kota Malang yang sudah teruji memenangkan semua pertempuran itu muncul kembali dalam membangun kotanya?

sumber: http://pattiromalang.blogspot.co.id/2012/04/kisahsejarah-kota-malang-yang-tak.html

KISAH SEJARAH KOTA MALANG YANG TAK BANYAK TERUNGKAP (Part 3)

Lahir Prematur, 5 Tahun Kota Malang Tak Punya Wali Kota
Sejarah menyebutkan, jika diibaratkan bayi, Kota Malang lahir secara prematur. Mengapa? Siapakah orang Belanda yang pernah jadi Wali Kota Malang, tetapi sempat menggulirkan refprmasi birokrasi?
Pada 2007 saya pernah melakukan survei. Di antara pertanyaan yang saya berikan kepada para responden adalah, apakah Anda mengetahui kapan hari jadinya Kota Malang? Hasilnya, 68 persen menjawab tahu, 26 persen menjawab tidak tahu, dan sisanya tidak menjawab.
Dari yang menjawab tahu, saya beri pertanyaan lagi, apakah Anda mengetahui kisah sejarah yang melatarbelakangi mengapa Kota Malang ditetapkan hari jadinya pada 1 April? Hasilnya, 94 persen menjawab tidak tahu, 5 persen menjawab tawur  alias tahu tapi ngawur dan satu persen menjawab dengan benar.
Berdasarkan hasil survei tersebut, rasanya cukup relevan jika pada hari jadi Kota Malang yang ke-98 ini seputar kisah sejarah yang melatarbelakanginya diungkap.
Benarkah bahwa kelahiran Kota Malang itu disebut sebagai kelahiran yang prematur?
Dari catatan sejarah, pada 1 April  1914 (ditetapkan sebagai hari jadinya Kota Malang) itu sebenarnya Kota Malang belum matang untuk dilahirkan. Sebab, saat itu belum mempunyai dewan kota, dan belum punya burgemester (wali kota).
Bahkan sampai 1919, belum punya kantor pemerintahan (balai kota) dan belum punya beberapa fasilitas layaknya sebuah kota mandiri.
Ibarat kelahiran seorang bayi, ibu bidan belum datang, belum ada popok dan pas suami keluar kota. Bisa dibayangkan, bagaimana rumitnya persalinannya itu. Hal tersebut terjadi karena Kawedanan Kotta (Kota Malang) terlalu cepat tumbuh berkembang setelah ditetapkan menjadi a full blown town (kota yang dewasa) pada 1905. Bahkan pertumbuhannya melebihi daerah lain di Jawa (Gedenkbook Gemeente, 1939).
Sehingga, mau tidak mau, siap tidak siap, harus memisahkan diri dari Kabupaten Malang untuk memerintah diri sendiri. Angka pertumbuhan penduduk, perpindahan penduduk, dan pertumbuhan ekonominya, semua bergerak dengan cepat. Bank, hotel, tempat hiburan (societeit), sekolah, rumah klinik muncul di beberapa tempat.
Hal ini dikhawatirkan jika tidak segera dibentuk pemerintahan sendiri yang kredibel, maka akan menjadi permasalahan sosial yang sulit diatasi di kemudian hari. Untuk itu berdasar keputusan Instellings-Ordonnantie pada 1914 Staatsblad Nomor 297, Malang ditetapkan menjadi gemeente (kotapraja) dan sampai sekarang diperingati sebagai hari ulang tahun Kota Malang.
Pada awal 1914 Kota Malang adalah bagian dari Kabupaten Malang di bawah jajahan pemerintah Belanda. Kabupaten Malang mempunyai 8 distrik atau kawedanan. Yakni Kawedanan Karanglo, Pakis, Gondanglegi, Penanggungan, Sengoro Antang (Ngantang), Turen, dan Kawedanan Kotta.
Sedangkan Kabupaten Malang sendiri menjadi bagian dari Karesidenan Pasuruan bersama Kabupaten Bangil dan Kabupaten Pasuruan berdasar Staatsblad Nomor 6 Tahun 1819.
Pada saat itu Kawedanan Kotta dibagi menjadi 13 kampoong, yakni Kidulpasar, Taloon (Talun), Kahooman (Kauman), Leddok, Padeyan, Klojen, Lor Alun, Gadang, Tameengoonhan (Temenggungan), Palleyan (Polean), Jodeepan (Jodipan), Kabalen dan Cooto Lawas (Kota Lama).
Tahun 1800 setelah kebangkrutan VOC, Kabupaten Malang masih dirasa merupakan wilayah yang kurang menarik untuk dijadikan tempat tinggal. Pemerintah Belanda saat itu hanya memfungsikannya sebagai daerah pertahanan (terugval basis) tanpa punya nilai ekonomis yang tinggi.
Malang kemudian menjadi primadona Belanda dan menjadikannya kota terbesar kedua di Jawa Timur setelah diberlakukannya Undang-Undang Gula (Suikerwet) dan Undang-Undang Agraria (Agrarischewet) pada 1870 yang memberikan kebebasan masyarakat luas untuk dapat menyewa lahan sampai dengan 75 tahun.
Saat itu sebagian besar orang Belanda berbondong-bondong datang ke Malang untuk  menanam kopi untuk kebutuhan ekspor ke Eropa yang bernilai sangat tinggi dan suiker (gula tebu). Malang dianggap daerah yang subur, mempunyai udara sejuk dan mempunyai akses jalan utama ke pelabuhan Surabaya.
Dilanjutkan dengan dikeluarkannya Undang-Undang Desentralisasi (Decentralisatiewet) pada tahun 1903 yang kemudian ditetapkan pada 1905 yang intinya memberikan hak pemerintahan sendiri kepada karesidenan dan kabupaten (afdeling) yang diperintah oleh dewan wilayah (kabupaten) dan dewan kotapradja (gemeenteraad).
Sedangkan ketua dewan wilayah adalah seorang residen dan ketua dewan kotapradja adalah seorang burgemeester (wali kota). Pada 1914 wali kota masih dirangkap Asisten Residen F.L Broekveldt digantikan oleh J.J. Coert sampai 1919 dengan terpilihnya Mr. H.I. Bussemaker sebaga Wali Kota Malang yang pertama.
Perlu diketahui, karena prestasinya membangun Kotapraja Malang, H.I. Bussemaker setelah menjabat dua periode (1919-1929) dipercaya menjadi Wlikota Surabaya pada 1 Maret 1929.
Sebenarnya untuk ukuran kota yang baru berdiri, Kota Malang telah mencatat prestasi yang luar biasa. Bayangkan, dalam 9 tahun sejak diberlakukannya beberapa undang-undang, Kota Malang yang dulunya menjadi bagian dari Pasuruan, melejit menjadi kota terbesar kedua di Jawa Timur.
Belum lagi prestasi-prestasi di bidang lainnya. Tetapi ternyata perkembangan yang sedemikian pesat itu tidak membuat pemerintah puas diri. Karena tingkat kemandirian di beberapa bidang, proses penetapan dalam sistem pengambilan keputusan masih tergantung pada pemerintah yang lebih tinggi.
Meskipun sama-sama orang Belanda, Wali Kota Malang didukung 40.000 orang penduduk (33.500 pribumi, 2.500 Belanda, dan 4.000 China, dan Arab) sangat berani untuk mengajukan beberapa hal yang kontroversial. Seperti melakukan reformasi pemerintahan (bestuurs-hervormings-ordonnantic, 1922) dari sistem desentralisasi menjadi dekonsentrasi yang memperoleh wewenang mengatur daerah lebih besar dan kotapraja (gemeente) diganti dengan staadsgemeente.
Pada saat Pulau Jawa dibagi menjadi 3 bagian, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur (Provincie-Ordonnantic Tahun 1926), Kota Malang menjadi pemimpin ibu kota Karesidenan, membawahi Kabupaten Pasuruan, Probolinggo dan Lumajang.
Nah, kalau saat lahir luasnya 15,03 kilometer persegi dengan jumlah penduduk 40 ribu orang, sekarang menjadi 110 kilometer persegi dengan jumlah 820.000 orang. Saatnya di ulang tahun kali ini Kota Malang dapat membuktikan kelahiran prematur itu membuat dewasa lebih cepat atau tidak sepat dewasa?

sumber: http://pattiromalang.blogspot.co.id/2012/04/kisahsejarah-kota-malang-yang-tak.html

KISAH SEJARAH KOTA MALANG YANG TAK BANYAK TERUNGKAP (Part 2)

Balai Kota Malang Dirancang Arsitek Dari Surabaya
Alon –alon asal kelakon artinya perlahan tetapi pasti. Namun, jika alon-aloon, artinya justru sangat berbeda. Aloon-aloon dari bahasa Belanda yang artinya lapangan terbuka. Di Malang ada dua alun-alun yang berada di depan kantor bupati dan balai kota. Bagaimana sejarahnya?
Zaman Hindu-Budha, alun-alun telah dikenal (dalam kitab negara Kertagama, Red). Asal usul kata dari kepercayaan masyarakat tani yang setiap kali ingin menggunakan tanah untuk bercocok tanam, maka haruslah dibuat upacara minta izin kepada dewi tanah dengan jalan membuat sebuah lapangan tanah sakral yang berbentuk persegi empat dan sekarang dikenal masyarakat sebagai alun-alun.
Pada masa Kerajaan Mataram, di alun-alun depan istana rutin diperuntukkan rakyat Mataram jika ingin menghadap penguasa. Alun-alun pada masa itu sudah berfungsi sebagai pusat administrative dan sosial budaya bagi penduduk pribumi.
Khusus Malang, Kantor Residen Menghadap Ke Selatan
Masyarakat berdatangan ke alun-alun untuk memenuhi panggilan atau memdengarkan pengumuman atau melihat unjuk kekuatan berupa peragaan bala prajurit dari penguasa setempat. Fungsi sosial budaya dapat dilihat dari kehidupan masyarakat dalam berinteraksi satu sama lain, apakah dalam perdagangan, pertunjukan hiburan, atau olahraga.
Untuk memenuhi seluruh aktivitas dan kegiatan tersebut, alun-alun hanya berupa hamparan lapangan rumput yang memungkinkan berbagai aktivitas dapat dilakukan. Pada masa masuknya agama Islam, seperti di alun-alun Malang, Masjid Jamik dibangun di sekitar alun-alun.
Alun-alun juga digunakan sebagai tempat kegiatan-kegiatan hari besar Islam termasuk sholat Idul Fitri. Pada zaman pra-kolonial, baik kota pusat kerajaan di pedalaman atau di pesisir, dibangun berdasar konsep tata ruang yang sama, yakni adanya lapangan luas yang ditengahnya ditanam satu atau dua buah pohon beringin yang disebut alun-alun (Santoso, 1984).
Sistem kaidah yang dipakai orang Jawa disebut Hasta Brata dikenal juga dengan ungkapan Kiblat Papat Limo Pancer, yakni keseluruhan ruang dibagi menjadi 4 atau 8 bagian. Pengelompokan dibuat berdasar padanan hal positif negative, unsure air di timur dan api ditempatkan di barat. Pusat duangan dipandang sebagai pusat dunia. (Sartono Kartodirdjo, 1987).
Nah, itulah sebabnya kenapa hampir semua pusat kota di Jawa mempunyai bentuk struktur yang hampir sama, pendapa bupati, masjid jamik, penjara, dan kantor residen (bupati). Sebelah selatan merupakan daerah sacral dan sebelah utara merupakan daerah profane.
Karena itu, di semua alun-alun, rumah bupati selalu diletakkan di selatan, kecuali di Malang yang ditempatkan sebelah timur menghadap ke selatan. Tidak jelas alasannya, tapi kemungkinan karena Malang dikenal daerah dengan pertahanan yang kuat. Sehingga tidak perlu diawasi langsung oleh residen.
Alun-alun Malang didirikan tahun 1882 (Kotapraja Malang, 1964). Jika sejarah itu benar, maka jelas pembangunan alun-alun Malang untuk kepentingan Belanda yang menjadikan alun-alun sebagai pusat kontrol. Hampir semua kegiatan produksi ekonomi terkumpul di sana.
Belanda sengaja menempatkan kantor bupati berhadapan dengan asisten residen (wakil bupati) yang kantornya di selatan alun-alun (sekarang Kantor Perbendaharaan dan Kas Negera). Dan, di sebelahnya masjid jamik yang berhadapan dengan penjara. Maksud setiap saat residen dapat mengontrol kegiatan bupati dan penduduk yang selalu berkumpul di pendapa bupati atau masjid jamik.
Karena alun-alun dipandang sebagai pusat kegiatan kota, maka secara tidak langsung pola pemukiman juga menyesuaikan dengan kondisi tersebut. Pemukiman orang Eropa di sebelah barat daya (Talun, Tongan, Sawahan), orang China di sebelah tenggara (Pecinan), Arab terletak di belakang Masjid (Kauman), dan pribumi di daerah Kebalen, Temenggungan, Jodipan. Sekarang dengan berkembangnya pembangunan kota Malang, keramaian kota menjadi terpecah.
Desain Balai Kota Disayembarakan, Tak Ada Yang Menang
Nah, kata aloon-aloon telah kita bahas arti, fungsi dan asal-usulnya. Terus sekarang, kenapa di Malang terdapat dua alun-alun? Bukankah satu sudah cukup, karena luas tanah dan perkembangan tahun 1900 masih memungkinkan untuk dioptimalkan.
Terus kalau dibilang tidak cukup, ya tidak cukup. Alasannya, pertumbuhan Malang ke depan sebagai contoh kota pusat pemerintahan dengan desain tata kota yang baik mempunyai satu syarat, yakni lingkungan yang kondusif.
Di Malang dirasa tidak memungkinkan lagi digabungkan pusat kota dengan pusat pemerintahan. Pusat kota telah berkembang sedemikian cepat dengan bertumbuhnya pusat ekonomi, hiburan, keagamaan dan sosial. Sedangkan pusat pemerintahan seiring dengan tumbuhnya Kota Malang harus segera membangun gedung pusat pemerintahan satu atap (block office).
Pada 26 April 1920 pihak Gemeente (Kotapraja) Malang memutuskan untuk membuat daerah pusat pemerintahan baru yang sekarang kita kenal dengan alun-alun bunder atau sekarang kita kenal dengan Alun-alun Tugu sesuai dengan bentuk tanah lapang yang berbentuk bundar.
Sebelum tahun 1914 Malang masih merupakan daerah bagian dari Keresidenan Pasuruan dan kekuasaan tertinggi di Malang adalah sisten residen. Setelah kota Malang dinaikkan statusnya menjadi Gemeente (kotamadya) tanggal 1 April 1914, Kota Malang berhak memerintah daerah sendiri dengan dipimpin oleh seorang burgemeester (wali kota). Jabatan wali kota waktu itu dirangkap asisten residen sampai 1918. Baru tahun 1919 Malang mempunyai wali kota pertana H.I Bussemaker.
Setelah selesai dibangun alun-alun bundar, Malang masih belum mempunyai kantor pemerintahan yang permanen dan berwibawa. Pada tanggal 26 April 1920 dibuat perencanaan perluasan kota yang di dalamnya termasuk pembangunan gedung balai kota sebagai tempat pemerintahan yang baru.
Gagasan perencanaan itu timbul setelah wali kota mengadakan sayembara perencanaan Balai Kota Malang dengan juri Ir.W.Lemei, Ph.N. Te Winkel dan Ir.A.Grunberg. Dari 22 peserta lomba, tidak ada satupun yang memenuhi syarat.
Maka tanggal 14 Februari 1927 diputuskan oleh dewan kota agar rancangan yang paling baik diadakan perubahan dan segera dilaksanakan pembangunan dengan anggaran F.287.000. Rancangan yang akhirnya dipakai adalah karya H. F Horn dari Semarang dengan motto Voor de Burgers van Malang (Untuk Warga Malang).
Pembangunan balai kota dilaksanakan pada 1927-1929 dan mulai ditempati September 1929 oleh wali kota kedua Ir.E.A Voorneman, Ruang wali kota dirancang sendiri oleh C.Citroen dari Surabaya yang sampai sekarang masih terlihat megah.
Bangunan yang tetap dipertahankan keasliannya ini menjadi bangunan cagar budaya di Malang yang dirancang bersama-sama para arsitek terkenal di Jawa saat itu. Nah, keinginan untuk mempunyai dua alun-alun telah kelakon meskipun dengan alon-alon. Menurut saya lebih alon-alon asal kelakon, tapi kelakonnya dengan hasil yang perfect dari pada ora alon-alon ora kelakon (cepat tapi tidak sesuai harapan). Tinggal sekarang bagaimana kita memanfaatkan kelakon itu dengan cerdas.

sumber:  http://pattiromalang.blogspot.co.id/2012/04/kisahsejarah-kota-malang-yang-tak.html

KISAH SEJARAH KOTA MALANG YANG TAK BANYAK TERUNGKAP (Part 1)

KISAH SEJARAH KOTA MALANG YANG TAK BANYAK TERUNGKAP (1)
Punya Anak Kembar, Arsitek Belanda Bikin Gedung Kembar di Kayutangan
Warga Kota Malang pasti tahu kawasan Kayutangan. Tapi, mungkin tak banyak tahu, mengapa disebut Kayutangan? Mengapa dulu orang-orang Eropa banyak yang memilih tinggal di sana?
Setidaknya ada dua versi yang menyebutkan, mengapa disebut Jalan Kayutangan, yang di zaman Belanda dikenal dengan nama Jalan Pita itu?
Pertama, merujuk pada data sejarahyang menyebutkan sebelum tahun 1914 di kawasan itu terdapat papan penunjuk arah berukuran besar yang berbentuk tangan yang dibuat oleh Belanda.
Kedua, disaat mulai berkembangnya kawasan alun-alun, di ujung jalan arah alun-alun terdapat pohon yang menyerupai tangan. Karena itu kawasan tersebut lantas disebut Kayutangan.
Entah mana yang menjadi dasar. Yang jelas, nama Kayutangan (Kajoetangan) banyak terdapat di buku laporan Belanda tahun 1890 hingga masih diucapkan sampai sekarang. Kompleks pertokoan di sepanjang Jalan Kayutangan (sekarang Jalan Basuki Rahmad) mulai dari pertigaan depan PLN sampai di depan Gereja Katolik Kayutangan dibangun antara tahun 1930-1940, yang saat itu bergaya atap datar dan berbentuk kubus.
Sampai sekarang kompleks pertokoan ini masih relatif terjaga keasliannya. Sekitar 1960-1970-an pertokoan itu membuat pusat keramaian di Kota Malang dengan ragam usaha. Antara lain, perdagangan umum, perkantoran, gedung bioskop, pakaian jadi, kelontong, dan lain-lain.
Di sepanjang Jalan Kayutangan terdapat perempatan yang terkenal, yang dulu sering disebut perempatan Rajabaly. Yang menarik adalah keunikan bentuk arsitektur pertokoannya yang terdapat tepat di perempatan Jalan Kayutangan (sekarang Jalan Basuki Rahmat, Jalan Kahuripan, dan Jalan Semeru).
Pertokoan itu dibangun pada tahun 1936 oleh arsitek Karel Bos. Bentuk kembar bangunan sebelah kanan dan kiri itu bukan hanya menggambarkan pintu gerbang menuju Jalan Semeru, tapi menurut beberapa tokoh masyarakat di sana, bangunan kembar tersebut terinspirasi dari sang arsitek yang baru dikaruniai putra kembar.
Gaya arsitektur yang beraliran Nieuwe Bouwen itu mempunyai menara di atas bangunan yang berfungsi sebagai tempat pengamatan sekitar.
Beberapa kejadian yang menggunakan akses Kayutangan sebagai jalan utama antara lain, prosesi penyerahan kekuasaan Belanda kepada Jepang pada 27-28 Februari 1942. Sebelumnya, sekutu Belanda menyerah kalah di Laut Jawa pada 1 Februari 1942.
Ketika itu, pukul 04.00 pasukan Jepang memasuki Pulau Jawa di empat Pesisir Laut Utara. Invasi Jepang di Jawa Timur dipimpin oleh Letnan Jendral Tsuchihashi Yuitsu dengan total pasukan 20.000 orang. Pasukan Belanda Divisi III yang tersisa pimpinan Mayor Jendral G.A.Ilgen terkonsentrasi di Ngoro.
Di Malang, batalyon marinir yang dipimpin oleh W.A.J mundur ke Dampit. Tahun 1942 diberlakukan Milisi (Wajib Militer). Program milisi itu mempersenjatai kaum pelajar untuk melawan pasukan Jepang. Tanggal 8 Maret 1942, Malang dinyatakan sebagai kota terbuka. Sekali lagi jalan tempat konsentrasi masa saat itu berada di Jalan Kayutangan.
Sore harinya negosiator Jepang menuntut Belanda untuk menyerah tanpa syarat. Maka Letnan Jendral Ter Poorten menyerah kepada Nippon. Kemudian pasukan Jepang memasuki Malang. Pada fase I penguasaan Jepang di Malang diadakan parade di Ijen Boulevard melewati Kayutangan.
Saat itu semua rakyat mengelu-elukan Jepang sebagai penyelamat dan menjanjikan kemakmuran yang baik dengan slogan “Asia untuk Orang Asia” yang tak lain propaganda Jepang. Pada 9 Maret 1942 pukul 03.00 dini hari, Residen Malang G. Schwenkcke menyebarkan selebaran. Jika ditulis dengan bahasa sekarang: “Pendudukan pasukan Dai Nippon akan datang dalam beberapa jam untuk menenangkan kota supaya tidak ada pertempuran. Maka saya akan minta komandan Dai Nippon untuk membolehkan tugas-tugas pekerjaan politik”.
Jepang lantas mengeluarkan perintah larangan untuk mengibarkan bendera Belanda, mendengarkan radio siaran luar negeri dan memasang gambar Ratu Belanda serta anggota kerajaan Belanda.
Pada 16 Maret 1942 diumumkan pengurangan gaji pegawai yang drastis, pakaian dan barang-barang berharga disita. Semua sekolah pendidikan Belanda ditutup. Semua uang di bank dipindah ke Javasche Bank (sekarang Bank Indonesia). Krisis keuangan di mana-mana.pada 30 Juli 1947 di Jakarta, The Nieuwsqier menuliskan bahwa masyarakat, polisi dan pemerintah Malang mencoba menghalang-halangi pasukan Belanda, tetapi kemudian dapat dikalahkan.
Pada 31 Juli 1947, surat kabar nasional di Jogjakarta menulis, jika diterjemahkan secara bebas adalah: “Di Malang ada taktik bumi-hangus yang diterapkan besar-besaran dan diperkirakan 1.000 bangunan balanda dan instalasi strategis dihancurkan dengan cara dibakar dan diledakkan dengan sisa-sisa bom milik Dai Nippon.
Patung Chairil Anwar di Kayutangan
Sebelum perang 1947, Malang mempunyai cara unik dalam berperang, yakni tidak dengan senjata, tetapi dengan pena. Untuk selalu mengobarkan semangat para pemuda, atas gagasan seorang pemuda A.Hudan Dardiri, dibangunlah patung penyair binatang jalang kelahiran Medan Chairil Anwar.
Sengaja patung ini dibangun di tengah-tengah poros jalan utama waktu itu, Kayutangan. Dibangun pada tanggal 28 April 1955, diresmikan oleh Wali-kotamadya Malang Sardjono. Saat itu Kayutangan diyakini sebagai jalan persimpangan yang selalu dilewati semua pejuang Malang.
Karena itu, sangat strategis jika ingin menyampaikan pesan apapun kepada masyarakat Malang lewat Jalan Kayutangan. “Biar peluru menembus kulitku, aku tetap meradang, menerjang…”. Ini adalah cuplikan puisi Chairil Anwar yang menggambarkan semangat perjuangan seorang seniman lewat karya sastranya.
Di Malang, peran aktif seniman dalam membangkitkan api perjuangan sangat dihargai. Tepat di ujung Jalan Kayutangan juga terdapat bangunan yang juga menjadi saksi sejarah Kota Malang, yakni Gedung Societeit Concordia.
Gedung ini patut dijuluki sebagai cikal bakal sejarah Malang, karena menjadi tempat tinggal pertama bupati sekaligus menjadi tempat berkumpul pertama warga Belanda saat mulai berani keluar dari benteng pertahanan di Celaket.
Berdasar Surat Resolusi pada 31 Oktober 1820 Nomor 16 (Bupati Soerabaia, 1914) menyatakan bahwa tempat yang sekarang menjadi Sarinah Mall itu adalah Rumah Dinas Raden Panji Wielasmorokoesoemo. Setelah diangkat menjadi Bupati Malang dan Ngantang, lantas berganti nama menjadi Raden Toemenggoeng Notodiningrat.
Jadi, Kantor Kabupaten Malang sebelum berada di lokasi sekarang (Jalan H.Agus Salim), awalnya berada di tempat itu sampai tahun 1839 bersamaan dengan wafatnya beliau. Setelah itu tempat bekas pendapa kebupaten ini diambil oleh Belanda kemudian dijadikan Gedung Societiet Concordia. Dibangun sebelum tahun 1900 dengan gaya Indishe Empire yang bercirikan kolom-kolom Yunani Kuno.
Setelah tahun 1914, setelah Malang menjadi kotapraja, gedung tersebut dirobohkan dan digantikan dengan model bangunan kolonial modern untuk mengakomodasi kebutuhan tempat rekreasi warga Belanda. Di sana disediakan seperti meja tempat main kartu, meja biliar, perpustakaan, gedung pertemuan dan ice skating di atap yang datar, dan pada saat tertentu dilapisi es (Ong Kian Bie).
Pada tahun 1947, gedung yang pernah dipakai sedang KNI pusat itu dibumihanguskan dalam rangka strategi perang gerilya dan tahun 1948 gedung tersebut diratakan dengan tanah, lalu dibangun gedung gedung baru untuk pusat pertokoan pertama di Malang yang sekarang bernama Sarinah. Nama Sarinah diciptakan oleh Presiden Soekarno yang berarti abdi masyarakat.
Pertokoan Kayutangan memberikan berkah kepada penduduk pribumi yang mengais rezeki sebagai pegawai toko di Kayutangan. Selai itu juga menjadi tempat pertemuan penduduk Eropa dan pribumi atas nama ekonomi sejak sebelum tahun 1900.
Jika mengacu pada buku Stadsgemeente Malang (1914-1939), penduduk Malang tahun 1914 terdiri dari tiga golongan. Yakni, pribumi, 40.000 jiwa, Eropa 2.500 jiwa dan Timur asing 4.000 jiwa. Daerah penyebarannya meliputi, orang Eropa di barat daya alun-alun (Talun, Tongan, Sawahan, Kayutangan, Oro-oro Dowo, Celaket, Klojenlor, dan Rampal).
Orang-orang China menempati daerah Pecinan, orang-orang pribumi di daerah Kebalen, Temenggungan, Jodipan, Talun, dan Klojen Lor. Daerah Kayutangan yang memang diperuntukkan orang Eropa mempunyai ciri bangunan hanya terdapat di pinggir jalan besar, berbentuk kubus dan mempunyai jalan kecil atau gang ke belakang untuk memudahkan mengawasi lingkungan sekitar.
Bentuk penataan yang demikian itu dimanfaatkan penduduk pribumi sebagai tempat bersandar di lingkungan belakang pertokoan ramai untuk mendekatkan diri mencari peluang usaha (karyawan yang bekerja di Jalan Kayutangan) yang dibutuhkan oleh kaum Eropa di pinggir jalan. Kondisi tersebut akhirnya berubah sekaligus menjadi tempat tinggal untuk menetap.
Dalam perkembangannya, jalan-jalan kecil (gang) di belakang pertokoan Kayutangan itu mempunyai aktivitas tradisi petan (mencari kutu rambut) bagi ibu-ibu.
Sekarang Kayutangan lambat laun tertutupi dengan papan iklan dan bangunan pertokoannya berganti kepemilikan yang beresiko untuk dibongkar dijadikan model pertokoan yang modern. Padahal jika semua pihak mengerti untuk mengembalikan bentuk aslinya dengan membuka façade iklan di depannya, bukan tidak mungkin predikat Kayutangan sebagai komplek paling ramai dan paling bergengsi akan disandang kembali. Semoga. 

sumber: http://pattiromalang.blogspot.co.id/2012/04/kisahsejarah-kota-malang-yang-tak.html

16 November 2015

Posisikan Diri

Pertama ijinkan aku memohon maaf ,
Aku sama halnya seperti kalian yang menghargai rutinitas yang nyaman dan ketenangan.
Aku menikmatinya seperti semua orang.
Dengan mengambil sedikit waktu kita duduk dan ngobrol ringan. Tapi tentu saja ada orang-orang itu yang tak menginginkan kita bicara.
Bahkan sekarang ini pun, mereka meneriakkan perintah dan arogansi.

Mengapa? Karena sekalipun 'kekerasan' dipakai sebagai pengganti percakapan kata-kata akan mempertahankan kekuatannya.
Kata-kata memberikan pengertian pada sebuah makna dan barang siapa yang mendengarkan, ucapan kebenaran.
Dan kebenarannya adalah ada sesuatu yang salah disini? Kearoganan dan ketidakadilan, ketidaktoleransian dan kesewenang-wenangan.
Dan dulu kalian pernah memiliki kebebasan menyatakan keberatan berpikir dan berbicara saat diperlukan,
sekarang terkena sensor dan pengawasan memaksamu tunduk dan meminta penyerahan total.

Bagaimana ini bisa terjadi? Siapa yang salah? Pasti ada yang salah dan yang lebih bertanggung jawab.
Dan mereka akan dituntut. Tapi sekali lagi, kebenaran akan terkuak, kalau kalian mencari yang bersalah,
kalian hanya perlu melihat ke sebuah cermin.
Aku tahu mengapa kalian melakukannya. Aku tahu kalian takut. Siapa yang tidak takut? Perang, teror, penyakit.
Ada banyak sekali masalah yang terbentuk untuk merusak pemikiran kalian dan merampok perasaan kalian yang wajar.
Rasa takut mengambil yang terbaik dari kalian.
Dan dalam kepanikanmu, kau beralih pada 'dia'.
Dia menjanjikan ketentraman, dia menjanjikan kedamaian dan yang dimintanya dari kalian adalah persetujuan untuk diam dan patuh.
Tunggulah akan kuhentikan ketidakadilan itu.