• MALANG KUçEçWARA‬ • MALANG NOMINOR SURSUM MOVEOR • MALANG BELONGS TO ME •

20 November 2015

KISAH SEJARAH KOTA MALANG YANG TAK BANYAK TERUNGKAP (Part 6)

Keamanan Tinggi, Nominasi Ibukota RI
Sadarkah kita kalau markas semua angkatan bersenjata berada di Malang? Kalau tidak percaya, coba lihat: angkatan lau di jalan pulau-pulau, angkatan udara di Pakis, angkatan darat di Rampal dan kepolisian sekrang di Ampeldento, Pakis. Kenapa tidak di Pasuruan, atau di Kediri atau kota yang lain?
Keberadaan semua kantor keamanan tersebut bukan kebetulan. Kalau dirunut dari sejarah, paling tidak tahun 1614 ketika pertama kali ekspansi Sultan Agung Kerajaan Mataram ke Jawa Timur, Malang telah membuktikan diri untuk yang pertama kali sebagai daerah pertahanan yang dominan. Seluruh Jawa Timur tidak akan dapat ditaklukkan jika tidak menguasai daerah Malang terlebih dahulu. Kenapa begitu? Setiap terjadi penyerangan di Jawa Timur, setelah kota lain dikalahkan, semua pemimpin daerahnya mengundurkan diri ke Malang untuk menyusun kekuatan kembali. Setelah siap, mereka kembali mengambil alih lagi daerahnya.
Demikian selalu terjadi terus menerus sampai akhirnya Sultan Mataram menyatakan ada satu daerah yang selalu “malang” yang artinya menghalangi. Itulah salah satu sebab, pertama kali daerah ini disebut daerah Malang, dan kemudian masa itu Malang dikenal sebagai Terugval Basis (kota pertahanan terakhir). Akhirnya, segera bias dicetak, daerah yang pertama kali harus dikuasai Mataram adalah daerah Malang pada tahun 1614, kemudian Pasuruan tahun 1616 dan Surabaya tahun 1625. Sedangkan sebutan untuk Surabaya dan Pasuruan saat itu adalah center of force yang artinya kota pemusatan kekuasaan. Jadi kesimpulannya, jika ingin menguasai Jawa Timur, kuasai dulu Malang. Itulah sebabnya semua basis angkatan berada di Malang sampai sekarang.
Nama-nama pahlawan nasional yang pernah menjadikan Malang sebagai daerah pertahannya antara lain Trunojoyo (tahun 1615) dan Pangeran Aria Wiranegara/Suropati (tahun 1686-1706). Peristiwa penangkapan keduanya sangat dramatis seperti disebutkan dalam babad willis dan babad-babad yang lain. Trunojoyo ingin mencapai home base perjuangan terakhirnya, yaitu Madura, dihalangi oleh tentara Belanda dan pasukan Mataram di Kediri sampai Lodoyo, Blitar. Di Surabaya dan Pasuruan ditunggu oleh pasukan Makassar di bawah pimpinan Karaeng Galesung. Di sini peran Malang sebagai Terugval Basis kembali dimanfaatkan untuk menetap sementara menyusun kekuatan. Sayangnya, seperti ucap Bapak Proklamator kita, Ir. Soekarno:”jangan pernah melupakan sejarah”, sangat diperhatikan oleh Belanda. Mereka belajar dari kegagalan Sultan Agung yang akhirnya membuat kesimpulan, ada satu daerah yang selalu menjadi tempat pertahanan terakhir: Malang. Tanpa susah payah menebak tempat persembunyiannya, Belanda mengepung dan memukul mundur Trunojoyo sampai daerah Ngantang hingga menemui ajalnya di perbukitan antara Ngantang dan Batu. Demikian juga dengan perjuangan Suropati yang menjadikan Malang menjadi benteng pertahanan terakhirnya. Perlu kita ketahui pembagian wilayah yang ada saat itu. Bang Wetan (sekarang Jawa Timur), yang terdiri dari Pasuruan, Malang, Kediri dan Blambangan (Banyuwangi) adalah wilayah di bawah Mataram. Hal ini dapat diketahui dengan adanya surat instruksi Amangkurat II tanggal 2 Desember 1677 kepada bupati-bupatinya yang berbunyi, ”untuk bupati-bupati pesisir dan daerah-daerah lainnya beserta kota-kota yang terletak di pedalaman mengenai penjualan keluar gabah dan beras” instruksi tersebut diikuti dengan daftar nama-nama kabupaten (G. P. Rouffaer, Nalatenschap, tanpa tahun) yang menyebutkan Surabaya nomor 17 Pasuruan nomor 21 dan Malang nomor 49. Karena masuk dalam daftar tersebut, berarti Malang adalah daerah Mataram yang tercakup dalam Bang Wetan. Tetapi hal ini sedikit membingungkan karena dalam daftar daerah milik VOC (J.K.J de Jonge & M.L van Deventer, 1862-1909) tentang Dagh-register 1678, Malang dan Pasuruan belum termasuk di dalamnya, mungkinkah beberapa daerah yang telah dikuasai Mataram tidak termasuk daerah yang dikuasai oleh VOC? Tahun 1743 Bekanda menambah predikat Malang tidak hanya sebagai Terugval Basis tetapi juga sebagai daerah Voedingsboden yang berarti tanah pembinaan bagi gerakan anti-Belanda. Daerah-daerah lain yang kemudian juga berfungsi menjadi daerah pertahanan setelah Malang telah diketahui, adalah kompleks Raung Banyuwangi, Kompleks Tengger dan Pulau Nusabarong. Di sini kisah Bupati Malang pertama (bukan versi Belanda) Raden Aria Malayakusuma dimulai, Wadena Siti Ageng Mataram yang mengangkat dirinya menjadi Bupati Bang Wetan.
Ada beberapa pertimbangan fakta Malang menjadi Terugval Basis: geopolitik, letak geografis dan historis (mitos masyarakat). Geopolitik di sini dikaitkan dengan keberadaan Sungai Brantas yang memanjang 252 km dari sumber sampai muara dengan luas pengairannya yang mencapai 10.000 km. Demikian juga pusat aktivitas politiknya yang berpindah-pindah, Kerajaan Kanjuruhan (sumber), dinasti Majapahit (muara).
Sedangkan pertimbangan letak geografis adalah karena Malang dikelilingi empat gunung berapi: Semeru, Kawi, Arjuno dan Tengger. Jadi untuk mencapainya diperlukan waktu dan kemampuan yang prima, serta dibelah oleh tiga sungai besar, yakni Bango, Amprong, dan Brantas. Sangat sulit untuk ditemukan kecuali dengan membangun jembatan terlebih dahulu. Sedangkan faktor historis berarti mitos yang beredar tentang Malang adalah daerah bumi yang sakral di mana tempat para roh leluhur raja-raja Singosari dan Majapahit berada. Malang memang harus pdrmanen. Tahun 1767 setelah Bupati Malaya Kusumo tewas dalam pertempuran di daerah Malang selatan, Belanda mendirikan benteng untuk memastikan bahwa daerah Malang harus terus menerus diawasi.
Tahun 1800 Kongsi Dagang Hindia Timur Belanda (VOC) dibubarkan dan pemerintahan langsung dipegang oleh Gubernur Jendral H.W Daendels (1808-1811). Setelah itu jatuh ke tangan Inggris di bawah Letnan Gubernur Jendral Thomas Stamford Raffles (1811-1816). Angka 14 memang angka yang keramat untuk Kota Malang. Kelahirannya 1914, sedangkan tahun 1814, akibat konvensi London oleh Inggris semua wilayah dikembalikan lagi ke Belanda, termasuk Malang. Jadi bisa dikatakan, tahun 1814 adalah kelahiran Kota Malang yang pertama di dunia internasional. Hanya bedanya 1814 dilahirkan oleh Inggris, sedangkan 1914 dilahirkan oleh Belanda. Perubahan besar memang setelah di bawah kekuasaan Belanda yang kedua ini dengan dibentuknya karesidenan di Pulau Jawa (staatblad 1819 no 16, surat keputusan Komisaris Jendral 9 Januari 1819) sebanyak 20 buah, yaitu: Banten, Jakarta, Bogor, Priangan, Krawang, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Kedu, Yogyakarta, Surakarta, Jepara dan Juana, Surabaya, Pasuruan, Besuki, Banyuwangi, Madura dan Sumenep, Rembang dan Gresik. Keputusan tersebut langsung diikuti dengan peraturan kewajiban, gelar dan pangkat para bupati (9 Mei 1820 no.6) yang tertinggi bupati dengan gelar Raden Adipati, kemudian Raden Tumenggung, dan paling bawah Raden Mas Ingebehi.
Di Kabupaten Malang, saat itu dipimpin oleh Raden Tumenggung Kertonegoro, sedangkan Bupati Pasuruan bergelar Raden Adipati, jadi jelas Bupati Malang pada masa itu adalah bupati kelas dua, dengan perbandingan gaji Bupati Malang F. 4.800 setahun dan Bupati Pasuruan F. 15.000 setahun.
Malang sebagai kota pertahanan (Terugval Basis) ini pula yang membuat pernah menjadikan pertimbangan untuk menjadi nominasi ibukota negara Indonesia setelah tahun 1945. Dalam laporan walikota tahun 1954 disebutkan, pada saat pemerintah pusat berkehendak selekasnya mendirikan sebuah ibukota negara Republik Indonesia, saat itu langsung diikuti dengan penegasan daftar beberapa kota yang dipilih. Antara lain Djakarta, Bandung, Magelang, Bogor, dan Malang. Saya punya keyakinan, pertimbangan saat itu memasukkan Kota Pradja Malang karena faktor historis sebagai daerah dengan tingkat keamanan yang tinggi. Pemerintah Malang langsung memerintahkan untuk membentuk kepanitiaan Persiapan dengan mengumpulkan beberapa persyaratan untuk dapat ditunjuk sebagai ibukota negara. Untuk menjadi satu ibukota negara ternyata tidak hanya berdasar pada faktor keamanan saja, tetapi banyak sekali hal-hal lain yang mempengaruhi, seperti faktor ekonomi, physis/meteorologist, sosial, teknis, histeris, geopolitik, dan futuris (kondisi masa depan). Semoga pengelaman demi pengalaman ini menjadikan Malang semakin matang dalam mengelola wilayahnya. Memang, mempelajari sejarah bukan untuk berbangga diri pada masa lalu, tetapi lebih untuk memperkuat bekal fondasi komitmen membangun masa depan yang bermanfaat. Setuju?

sumber:  http://pattiromalang.blogspot.co.id/2012/04/kisahsejarah-kota-malang-yang-tak.html

0 Comment:

Posting Komentar