• MALANG KUçEçWARA‬ • MALANG NOMINOR SURSUM MOVEOR • MALANG BELONGS TO ME •

20 November 2015

KISAH SEJARAH KOTA MALANG YANG TAK BANYAK TERUNGKAP (Part 7)

1936, Kota Malang Sudah Punya Jalan Lingkar Luar
Mengapa Malang dulu dikenal sebagai kota sejuk, kota taman, kota pegunungan, dan kota indah? Semuanya karena konsep penataan kota yang dilakukan arsitek  Herman Thomas Karsten. Bagaimana konsepnya?
Saat pemerintah akan mengembangkan Kota Malang dengan cara perluasan lahan, ketika para spekulan membeli tanah dan menjualnya kembali dengan harga tinggi, muncullah permasalahan. Hal itu tidak hanya terjadi zaman sekarang. Sejak Malang pertama akan mengembangkan diri, masalah tersebut sudah merebak.
Saat itu tanah masih sangat-sangat luas dan harga tanah seperti tidak bernilai. Bahkan, karena masih banyak “belukar”, di beberapa daerah seperti Oro-Oro Dowo dan Kedungkandang masih sempat dijumpai binatang-binatang liar seperti macan rembang.
Meskipun telah dilakukan perubahan dalam peraturan hukum, tetapi Gemeente Malang masih belum puas dengan tingkat kemandirian yang dimilikinya. Mereka menghendaki adanya reformasi pemerintahan menjadi dekonsentrasi. Dewan-dewan wilayah dibubarkan karena jumlahnya terlalu besar dan dirasakan kontak anggota dengan penduduk masih kurang.
Spekulan tanah muncul saat pemerintah Gemeente Malang berubah status menjadi Staadsgemeente tahun 1926 dan memperoleh wewenang yang lebih besar (Stadsgemeente Ordonantie 1926). Selanjutnya mereka bertanggung jawab kepada Provinsi Jawa Timur. Meskipun tanah kosong masih sangat luas, tanah yang telah direncanakan untuk pengembangan kota telah lebih dahulu dibeli spekulan tanah.
Melihat gejala tersebut, Wali Kota saat itu Ir. E.A. Voorneman mengambil tindakan berdasar Bijblad I 1272 mengeluarkan suara rencana yang disebut Geraamteplan (Outline plan) yang bertujuan menguasai tanah yang diperlukan untuk perluasan kota dengan biaya pemerintahan pusat. Geraamteplan yang dibuat pemerintah Stadsgemeente Malang pada dasarnya hanya untuk menguasai tanah untuk perluasan tanpa dibuat breakdown lebih detail tentang rencana fungsi dan pemanfaatannya. Akibatnya, rencana Geraamteplan Malang ditolak oleh pemerintah pusat.
Sebagai akibat dari Algemeene Volkshuisvestingcongress (Kongres Perumahan Rakyat Umum) 1922, pada 1926 pemerintah pusat menetapkan perluasan dari Oemeentelijk Voorkeurrecht Op Gouvernementsgronden (Peraturan Hak Preferensi Kotapraja atas Tanah Gubermen) berupa bijblad (lampiran negara) nomor 11272 yang isinya tentang pedoman-pedoman cara penguasaan tanah bagi perluasan tanah. Hal itu menjadi basis bagi pembuatan Geraamteplan yang akan diajukan kepada pemerintah pusat untuk bisa diterima, dipertimbangkan, atau ditolak. Setelah disetujui, pemerintah pusat akan memberikan prioritas berdasar undang-undang bahwa tanah yang dipergunakan untuk perluasan kota tidak boleh dijadikan hak milik atau yang sampai sekarang kadang-kadang kita masih mendengar istilah eigendom. Sekarang banyak pihak yang ingin memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat tentang tanah eigendom itu. Mereka mengetahui daftar tanah-tanah tersebut dan menakut-nakuti penghuni rumah yang notabene sudah tinggal turun-temurun untuk bisa diambil alih dengan hanya diberi uang pesangon. Alasannya, daripada nanti sewaktu-waktu tanah tersebut diambil oleh pemerintah. Ternyata rumah atau tanah tersebut dijual kembali dengan harga yang berlipat-lipat.
Kemudian, bagaimana rencana Staadsgemeente Malang setelah Geraamteplan-nya ditolak pemerintah pusat? Langkah yang diambil adalah mencari ahli perencana kota untuk membuat perencanaan tersebut. Dan, pilihannya jatuh kepada Ir. Herman Thomas Karsten, yang sebelumnya sering diminta untuk membantu sebagai penasihat kota (adviseur) Malang. Karsten lahir pada 22 April 1884 di Amsterdam. Dia arsitek yang sangat brilian di Belanda. Hampir semua keluarganya professor di beberapa bidang. Karsten lulus dari jurusan bangunan di sekolah tinggi teknik di Delf tahun 1909 dengan hasil cumlaude.
Karsten datang ke Indonesia pada 1914, tepat kelahiran Kota Malang, atas undangan teman sekolahnya, Henri Maclaine Pont, seorang arsitek yang banyak karyanya dapat dijumpai sampai sekarang seperti gedung ITB, Museum Trowulan, dan Geraja Pohsarang di Kediri. Karsten menikah dengan Soembinah Mangunrejo, seorang buruh tanam tembakau di Lembah Dieng, Jawa Tengah. Selanjutnya, dia aktif sebagai pengurus dewan kesenian dan ikut mendirikan perkulmpulan kesenian Jawa Sobokarti di Semarang (De Java Institude). Tahun 1941, dia menjadi lektor luar biasa ITB Bandung jurusan planologi dan berteman dengan tokoh penting saat itu seperti Ir. Soekarno, Djojodiningrat, dan Radjiman.
Setelah masuknya Jepang di Indonesia tahun 1942, Karsten ditangkap dan dimasukkan ke kamp penyiksaan interneer Jepang. Dia berada di kamp penyiksaan sampai meninggal April 1945.
Sebelum meninggal, setelah diangkat resmi olah Wali Kota Ir. E.A. Vooeneman Agustus 1929, Karsten membuat perencanaan besar Kotapradja Malang. Dari sinilah, awal perencanaan Kotamadya Malang dengan konsep totalbleed dimulai, kota sebagai satu kesatuan dan terdiri atas faktor-faktor bangunan, jalan-jalan, rambu-rambu, penghijauan, pematusan, dan pemandangan yang harus menyatu serta direncanakan dengan menyeluruh dan berkesinambungan. Sekarang konsep tersebut dapat kita jumpai pada penyusunan RUTRK (rencana umum tata ruang kota), kemudian RDTRK (rencana detail tata ruang kota) yang akhirnya diterjemahkan dalam RTRK (rencana teknis ruang kota).
Menurut dia, fondasi pembangunan kota ada tiga. Yaitu perencanaan yang menyeluruh, peraturan-peraturan administratif, dan dinas yang tegas mengurusi serta mengawasinya. Kemudian tahun 1932, dibentuklah dinas ynag mengurusi pembangunan kota (mungkin sekarang sama dengan dinas kimpraswil). Juga ada pembuatan peraturan pembangunan kota (sekarang dikenal dengan IMB/izin mendirikan bangunan). Pun ada bagian perencana kota (sekarang seperti bappeda).
Tugas pertama yang harus dilakukan adalah pembuatan pengaturan tentang tipe bangunan dan pembagiannya dalam lingkungan. Tipe yang bercorak kota terdiri atas tipe vila (khusus untuk rumah di daerah Jalan Ijen), tipe rumah kecil, tipe rumah kampung terbuka dan kampung tertutup , serta tipe fasilitas umum  dan tipe pedesaan. Inilah kali pertama pemerintah Belanda membuat peraturan pengelompokan jenis perumahan berdasar etnis. Sebelumnya, tipe pembangunan selalu dikelompokkan berdasarkan jenis pemukiman Eropa, China, Arab, dan penduduk biasa.
Tugas kedua adalah perencanaan jalan yang menyeluruh dan terpadu dengan perkembangan pembangunan kota. Karsten dangat memperhatikan pertumbuhan jumlah penduduk dalam merencanakan pembangunan jalan dan jaringannya. Sebagai contoh, pada saat tingkat pertumbuhan kendaraan saat itu di jalan utama (Kayutangan) akan meningkat, segera dibangun outer ringroad (jalan lingkar luar) di sebelah timur yang sekarang dikenal sebagai Jalan Panglima Sudirman. Jalan lingkar luar itu melewati Rampal yang sebelumnya adalah jalan tembusan tak beraspal. Sedangkan outer ringroad di sebelah barat adalah lingkar Jalan Ijen tembus Oro-Oro Dowo.
Sebagai ilustrasi, jumlah penduduk Malang pada 1936 adalah 96.000 jiwa. Dengan jumlah sebesar iut, Kota Malang sudah mempunyai outer ringroad. Sekarang, tahun 2012 dengan jumlah penduduk lebih dari 800.000 jiwa, ringroad-nya di sebelah timur masih sama. Dapat dibayangkan kemampuan jalan menahan pertumbuhan volume kendaraan yang sangat tidak seimbang sehingga menyebabkan kemacetan yang panjang.
Konsep yang lain adalah tentang pembuatan taman dan ruang terbuka. Dalam perencanaan sebelumnya, ruang terbuka yang ada sebelumnya untuk olahraga dan untuk kepentingan militer. Namun, Karsten juga seorang pecinta berat lingkungan. Dia pun membuat taman untuk bersantai masyarakat umum. Dia mengatakan, jalan utama harus cukup lebar dan harus diberi taman di setiap persimpangannya. Jalan tersebut harus berirama, diatur dengan adanya sumbu-sumbu jalan datar dan titik klimaks. Hal ini akan menjadi ciri kota yang indah. “Bukan saja indah dipandang mata, tetapi juga nyaman dilewati,” ungkap Karsten. Konsep itulah yang kemudian diterapkan pada penataan Ijen Boulevard yang berhasil ikut dalam Pameran Tata Kota Dunia di Paris tahun 1937 dengan bantuan penasihat Kotamadya Bandung.
Untuk menunjukkan bahwa Malang Kota pegunungan, diterapkan peraturan daerah untuk bangunan yang berada di sepanjang Daendels Boulevard (Jalan Kertanegera) melewati JP Coen Plien (Alun-alun Bunder), sampai tembus Jalan Semeru. Diatur keberadaaan dan ketinggian bangunannya supaya tidak menutupi pemandangan ke arah Gunung Kawi. Dan untuk menunjukkan pemandangan gunung pada setiap orang yang datang ke Malang, tahun 1930 Stasiun Kota Baru yang dulunya punya pintu masuk menghadap ke tangsi militer (Rampal) dipindah menghadap ke arah Alun-alun (Tugu) sampai sekarang.
Sedangkan untuk menjaga resapan dan suhu udara yang sejuk, dimanfaatkan keberadaan Sungai Brantas. “Seluruh lembah Brantas yang ada di dalam kota akan dipakai sebagai taman. Sungai Brantas bukan hanya berfungsi sebagai pembatas kota, tetapi harus juga berfungsi sebagai taman kota,” ucap Karsten.
Melalui keberadaan taman yang dihubungkan dengan jalan setapak di sepanjang Sungai Brantas, hampir semua bangunan mempunyai teras yang menghadap ke Sungai Brantas. Sekarang kita tahu, tidak satu pun bangunan yang mau menghadap ke arah sungai. Ini menyebabkan sungai menjadi kumuh, ditempati oleh para tunawisma, dan tidak menarik lagi sebagai fungsi semula: taman sekaligus paru-paru kota. Padahal, sebutan Malang Kota sejuk, kota taman, atau kota indah berawal dari perencanaan saat itu yang selalu membangun berkonsep lingkungan. Sekarang, perlu dipertimbangkan lagi kemungkinan mengembalikan kasta taman dan sungai ke tempat semula sebagai barometer keindahan dan kenyamanan Kota Malang.
KISAH SEJARAH KOTA MALANG YANG TAK BANYAK TERUNGKAP (8)
Hotel Internasional Kini Jadi Kantor Bank
Banyak bangunan bersejarah di Kota Malang. Sebagian sudah berubah dan sebagian masih utuh. RSSA itu dulunya benteng pertahanan Belanda. Selain itu, kenapa Toko Oen masih utuh meski Malang mengalami peristiwa bumi hangus?
Lewat dari arah mana jika ingin berkunjung ke Kota Malang? Jawabnya adalah dari arah utara. Kenapa? Karena kalau ingin berkunjung ke rumah harus melalui pintu bukan lewat jendela atau yang lain.
Terus, pintunya Malang apa di utara? Ya, pintunya ada di Lawang! Lawang dalam Bahasa Jawa berarti pintu. Entah pintu masuk atau pintu keluar, tapi memang lebih baik masuk lewat Lawang.
Pintu masuk Malang dari arah Surabaya inilah yang paling banyak dilalui daripada yang lainnya (Blitar, Kediri atau Lumajang). Nah, sekarang kalau kita coba menelusuri keberadaan bangunan heritage dari arah utara ke selatan, kita akan menemui beberapa sumber data, baik tertulis maupun lisan. Kadang satu tempat mempunyai beberapa keterangan yang berbeda sesuai dengan sumbernya sendiri-sendiri.
Yang ingin saya sampaikan sekarang ini adalah salah satu sumber data yang berasal dari literatur yang paling banyak dipergunakan dalam setiap penelitian sejarah arsitekstur dan budaya. Saya akan mencoba dari mulai bangunan yang dibangun sejak zaman Gemeente yang masih bisa kita lihat sampai sekarang.
LP Lowokwaru
Penjara ini telah mengalami pergantian tiga masa, yakni masa Belanda, Jepang dan kemerdekaan. Dibangun pada 1921 saat pemerintah Belanda membangun perumahan di daerah Celaket, kemudian digunakan Jepang sebagai tempat penampungan para pejuang diinterogasi.
Pada saat Belanda memasuki Malang, tempat ini dibakar oleh para pejuang Malang sampai tinggal tembok penyekatnya saja. Sampai sekarang LP Lowokwaru masih berfungsi sebagai penjara meskipun lokasi perumahan penduduk sangat dekat sekali. Tempat ini pula yang menjadi tempat awal karir pahlawan Hamid Roesdi sebagai sopir.
Klinik Lavalette
Di dekat lintasan kereta api kawasan Celaket terdapat sebuah rumah sakit yang sejuk dan rimdang dengan fasilitas yang modern bernama Rumah Sakit Lavalette. Kependekan dari G.Ghr.Renardel De Lavalette, nama seorang pemilik klinik ini. Karena kesetiaannya pada pengabdian kesehatan masyarakat, beliau bersama Yayasan Stichting voor Malangsche Verleging pada 1918 mendirikan klinik kesehatan yang sekarang berkembang menjadi rumah sakit di bawah pengelolaan PT. Perkebunan Nusantara XI (Persero).
Sekolah Corjesu
Tepat pada 8 Februari 1900 keinginan Mgr. Staal (satu-satunya Uskup di Indonesia) untuk mendirikan biara dan sekolah di Malang terwujud. Keinginan itu terwujud dengan dibelinya tanah di Jalan Celaket milik Tuan Stenekers. Selanjutnya tanah tersebut pada 3 Maret 1900 dibangun oleh arsitek Westmass dari Surabaya. Mulai digunakan tahun 1930 untuk sekolah pendidikan guru dengan nama SPG Santo Agustinus.
Pada masa pendudukan Jepang, sekolah ini dihentikan untuk keperluan Jepang. Selanjutnya pada bulan November 1945 dijadikan markas sementara sekolah militer divisi VII Suropati (sebelum pindah ke bekas asrama Marine Belanda di Jalan Andalas).
Pada saat Clash I pada tanggal 30 Juli 1947, sekolah ini juga tidak luput dari pembakaran. Tanggal 8 April 1951 dimulai pembangunan kembali secara besar-besaran dan tanggal 15 Juli 1951 sekolah pendidikan guru Santo Agustinus ini berubah menjadi SMA Corjesu dan diresmikan oleh Monseigneur pada 13 Januari 1955.
Sekolah Frateran
Tepat di pinggir Jalan Celaket yang merupakan akses utama hampir seluruh kegiatan Belanda, dibangun Fraterschool pada 1926 dengan arsitek biro arsitek Hulswit, Fermont & Ed, Cuypers dari Batavia. Gedung yang sehari-hari berfungsi sebagai sekolah umum  dan biara untuk para frater, berada di bawah Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus Provinsi Indonesia dengan Bapak pendiri Frater Mgr. Andreas Ignatius Schaepman. Diresmikan tanggal 13 Agustus 1873 di Utrecht.
RSSA
Lokasi bangunan yang paling bersejarah di Malang adalah lokasi sekarang berdiri RSSA.
Saiful Anwar. Karena kali pertama Belanda memasuki Malang pada 1767, mereka membangun benteng pertahanan atau Loge/Loji (Kelojian-Kelodjen) di tempat ini. Pembangunan ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa Sungai Brantas dapat dijadikan jalan keluar jika terjadi penyerangan. Selanjutnya pada 1800-an, Belanda mulai bermukim di sekitar alun-alun dan tempat ini dijadikan militair hospital (rumah sakit Tentara Belanda) di daerah kompleks militer Belanda, mulai dari Lapangan Rampal. Sekarang semua fasilitas tersebut digunakan untuk Kodim, Ajendam, Rindam dan Kesdam. Pada 8 Maret 1942 Jendral Ter Poorten menyerahkan rumah sakit ini kepada Jepang sampai terjadi pengeboman Hiroshoma 6 Agustus 1945.
Saat terjadi agresi militer I 1947, setelah bertukar tempat dengan RS Sukun, oleh Pemerintah Propinsi Jawa Timur digunakan sebagai rumah sakit umum dengan nama ‘Celaket’ dan berganti nama Rumah Sakit Dr. Saiful Anwar pada 12 Nopember 1979 sampai sekarang.
PLN
Kantor Electriciteit Mij Aniem N. V. Malang atau Perusahaan Listrik Negara cabang Malang dibangun sekitar 1930-an dengan cirri khas Nieuwe Biuwen yang beratap datar, gevel horizontal dan volume bangunan berbentuk kubus.
Bangunan yang bagian belakangnya lengsung menghadap ke Sungai Brantas ini mempunyai beberapa ruang bawah tanah yang tertutup. Jika dilihat dari tahun pembangunan yang sezaman dengan pembangunan Stasium Kota Baru, maka fungsi ruang-ruang bawah tanah tersebut adalah dipakai sebagai tempat berlindung atau menyelamatkan alat-alat vital listrik. Ruang itu dibuat untuk melindungi alat-alat dari Perang Dunia II yang saat itu isu-nya berkembang cukup luas.
YMCA Hotel
Gedung yang saat ini dipergunakan Bank Central Asia berada tepat di perempatan Jalan Basuki Rahmat ini dibangun pada 1930 oleh biro arsitek Karel Bosh adalah Hotel Mabes dan Malangsche Apotheek. Kemudian berganti nama Hotel YMCA, tidak diketahui dengan jelas tahun berapa hotel tersebut berganti nama, tapi saat itu hotel ini adalah satu-satunya hotel Jaringan Internasional di Malang.
Kantor Telkom
Kantor Telkom sekarang ini dahulu adalah kantor pos, telegram dan telepon. Dibangun 8 Juli 1909 dan pension pada 1929.
Sambungan telepon masih dikelola oleh swasta, baru pada 1917 diserahkan ke pihak Kotapraja dengan jumlah sambungan sebelumnya 275 menjadi 1.000 sambungan yang kebanyakan pemakainya orang Eropa.
Sama dengan bangunan Belanda yang lain, pada agresi militer I, hampir semua bangunan kolonial Belanda dibakar, kantor Telkom ini juga tak luput dari amuk pejuang Malang hingga tinggal tembok depannya saja.
Pada masa pendudukan Belanda yang kali kedua ditandai dengan defile pasukan dan kendaraan berat, kantor Telkom ini selalu menjadi panggung anjungan kehormatan.
Toko Oen
Sejak 1930 Toko Oen Ice Cream Palace Patissier mulai dibuka dan menjadi satu-satunya restoran dari keluarga China, ‘Oen’ dengan menyediakan menu khas Belanda saat itu. Karena lokasinya berada tepat di depan Gedung Concordia (sekarang Sarinah) tempat berkumpulnya semua warga Belanda di Malang, restoran ini sampai sekarang dikenang sebagai tempat nostalgia warga Belanda yang wajib dikunjungi.
Pada saat Kongres KNIP pada 25 Februari 1947, restoran ini menjadi tempat mangkal para peserta Kongres se-Indonesia untuk beristirahat makan siang. Semasa pendudukan kembali Belanda pada Juli 1947, tempat ini adalah salah satu yang selamat dari pembumihangusan.
Gereja Hati Kudus Yesus
Gereja ini didirikan pada 1905 oleh arsitek MJ. Hulswit, murid sekolah Quelinus yang dikepalai oleh PJH Cuypers. Dia arsitek Belanda ahli restorasi gereja-gereja Githic saat Malang masih menjadi daerah bagian dari karesidenan Pasuruan.
Di dalam terdapat prasasti yang ditulis dalam bahasa Belanda yang artinya “Gereja ini dipersembahkan kepada Hati Kudus Yesus, didirikan berkat kemurahan hati yang mulia Monseigneur E.S Luypen, dirancang oleh M.J Hulswit”. Dan semasa penggembalaan yang terhormat room-romo GDA. Joncbloet dan FB. Meurs, pada tahun 1905 dilaksanakan oleh pemborong YM.Monseigneur Edmundus Sijbrandus Luypen, Uskup Tituler dari Eropa, Vikaris Apostolik dari Batavia” (Indrakusuma, 1992).
Dua tower ciri khas Gereja Gothic di kanan kiri pintu masuk. Saat pembangunan pertama pada 1910 belum ada, baru pada 17 Desember 1930 menara itu selesai dibangun dan tidak berubah sampai sekarang.
Makam Mbah Honggo
Sayang makam ini sekarang sudah tidak terawat bahkan cenderung terabaikan. Padahal kedua makam tersebut adalah keturunan langsung trah Majapahit. Dalam buku leluhur R. Koesnohadipranoto (Comptabel Ambtenaar) dan Serat Kekancingan Kasunan Surokarto Hadiningrat Nomor 45/15/II 3 Feb 1933, turunan R.B Soeprapto, disebutkan bahwa makam pertama adalah Kandjeng Pangeran Soero Adimerto (Kyai Ageng Peroet) dan yang kedua adalah Pangeran Honggo Koesomo (Mbah Honggo).
Bagaimana makam keturunan Majapahit bisa berada di sini? Tahun 1518 dan 1521 pada masa pemerintahan Adipati Unus dari kerajaan Demak menyerang kerajaan Majapahit masa pemerintahan Prabu Brawijaya (Bhre Pandan-Salas, Singhawikramawardhana). Serangan pasukan Demak memaksa seluruh keluarga mundur ke Sengguruh yang selanjutnya mengungsi ke Pulau Bali.
Prabu Brawijaya mempunyai putra yang bernama Batoro Katong yang melarikan diri ke Ponorogo pada 1535 dan menjadi Adipati Ponorogo. Beberapa keturunan selanjutnya, Kandjeng Soero Adimerto yang hidup pada masa perjuangan Pangeran Haryo (BPH) Diponegoro, putra Sampeyan Dalem ingkang Sinuwun Kandjeng Susuhunan Pakubuwana I tahun 1825.
Setelah peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Jendral De Kock di Magelang pada 28 Maret 1830, semua Senopati (panglima perang) berpencar ke seluruh Jawa Timur dengan menggunakan nama-nama samaran yang bertujuan menghilangkan jejak terhadap Belanda.
Pangeran Soero Adomerto berganti nama Kyai Ageng Peroet, Pangeran Honggo Koesomo menjadi mbah Onggo, Ulama Besar Kanjeng Kyai Zakaria II menjadi Mbah Djoego. Sedangkan keturunan di bawahnya, Raden Mas Singhowiryo dimakamkan terpisah sekitar 50 meter dan sekarang dikenal masyarakat dengan Kuburan Tandak.
Trem
Pada awal 1900-an Malang Stoomtram Maatschappij (perusahaan pengelola trem Belanda) sudah mengoperasikan trem (kereta api uap) di Malang. Kereta angkutan penumpang pada tahun itu sudah menjadi angkutan yang populer di samping semua angkutan tradisional.
Rel trem yang dahulu terdapat di Blimbing, Lowokwaru, Celaket, Kayutangan dan melintas di tengah-tengah alun-alun. Saat ini sudah tidak dapat dijumpai lagi karena perkembangan lalu lintas yang sangat padat.
Sekarang trem hanya digunakan di daerah pabrik gula untuk mengangkut tebu yang akan digiling dari penampungan ke lokasi penggilingan di daerah Kebonagung. Padahal sekitar tahun 1910-an trem ini mempunyai banyak jurusan dari Singosari, Tumpang sampai Kepanjen. Beberapa alat transportasi lainnya adalah oplet, bemo dan dokar.
Berdasar buku petunjuk Kotapradja malang pada 1969, ada beberapa tempat parkir di Malang. Antara lain, oplet jurusan Batu di pegadaian, jurusan Tumpang di boldy, jurusan Kepanjen di jagalan Trem, jurusan Surabaya di Jalan Kabupaten, jurusan Turen-Dampit-Gondanglegi-bululawang berada di Comboran. Sedangkan untuk bemo dan demo berada di Kidul Pasar dan truk di Jalan Halmahera. Sedangkan tempat parkir dokar berada di Kidul Dalem, Kotalama, Jagalan, Kauman, Halmahera dan Kebalen.
Bank Indonesia
Javasche Bank (Bank Indonesia) dirancang oleh biro arsitek Hulswit, Fermond & Ed. Cuypers dari Batavia pada 1915. Hampir bersamaan dengan bangunan-bangunan gedung yang lain di sekitar alun-alun, seperti Palace Hotel (Hotel Pelangi).
Tidak seperti bangunan Javasche Bank yang lain di Indonesia yang menggunakan model neo-clasik dengan kolom-kolom Yunani yang tinggi, di Malang terkesan lebih modern. Pada zaman pendudukan Jepang pada 1943, diperintahkan pembatasan semua fasilitas Belanda, termasuk sekolah-sekolah, sedangkan rakyat dilarang menyimpan dana di bank.
Satu-satunya bank yang ditunjuk untuk menghimpun dana dari seluruh bank adalah Javasche Bank dengan tujuan, Jepang dapat mengawasi ketat seluruh perekonomian dengan satu pintu.
Setelah dibumihanguskan pada 1947 oleh pejuang-pejuang Kota Malang, dibangun kembali tanpa meninggalkan bentuk dasar bangunan aslinya dengan diberi penambahan pagar besi yang kelihatan sangat kokoh.
Bisko Rex-Ria
Salah satu contoh bentuk design art deco yang sekarang lagi trend adalah desain gedung Bioskop Rex. Sekarang telah dibongkar habis dan diganti gedung perkantoran sebuah bank.
Seandainya tetap mempertahankan bentuk art deco yang sekarang banyak dijadikan acuan desain modern dunia, pasti akan lebih banyak orang yang datang ke sana minimal untuk foto bersama. Tapi itupun adalah salah satu bentuk promosi gratis. Sebelumnya bioskop Rex berganti nama Ria.
Sepanjang jalan itu terdapat banyak sekali gedung bioskop, antara lain Alhambra, Grand, Centrum, Merdeka, Surya, Agung, Jaya, Ratna, Mulia, Kelud-Tenun dan di utara ada Irama.
Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara
Bangunan yang mempunyai cirri atap segitiga ini dahulunya adalah kantor Karesidenan Malang yang dibangun pada 1936 oleh arsitek Ir. M.B. Tideman. Sampai sekarang tidak mengalami perubahan yang berarti.
Perkembangan arsitektur Belanda saat itu banyak terpengaruh gaya kolonial awal modern di mana tiap bangunan mempunyai pola simetri yang kuat. Sebelum tahun 1900 areal ini menjadi pusat perdagangan dengan sistem barter, di mana semua penduduk dari pedalaman berkumpul untuk menukarkan barang-barang untuk dibawanya.
Saat terjadi serbuan Tentara Inggris di Surabaya yang disusul pendudukan Kota Surabaya oleh Tentara belanda, pemerintah RI tingkat Provinsi jawa Timur dipindah ke Malang bertempat di gedung bekas Karesidenan Malang ini.
Berhubung perpindahan ini diberengi dengan pengungsian penduduk Surabaya ke Malang, maka dibutuhkan banyak tempat untuk menampungnya, antara lain gedung sekolah Jalan Panderman.
Tahun 1947 saat Malang bumihangus, gedung ini menjadi target untama pembakaran oleh pejuang Malang, karena letaknya yang sangat strategis untuk digunakan kembali oleh Belanda.
Hotel Pelangi-Palace Hotel
Hotel Pelangi awalnya adalah Palace Hotel mempunyai ciri-ciri khas bangunan kolonial tahun 1900-1915, yakni di tengah bangunan terdapat Double Tower yang menjulang tinggi untuk pengawasan dan mempunyai dua blok di sisi kanan dan kiri yang menjorok ke depan.
Dibangun tahun 1916, sebelum menjadi hotel yang memiliki 126 kamar. Pada saat itu tempat ini memang menjadi tempat favorit untuk didirikan hotel. Sekitar tahun 1850 diawali oleh Hotel Malang dengan arsitektur rumah joglo tradisi Jawa yang sangat tradisional, bahkan cenderung layaknya rumah tinggal besar (pendapa), kemudian dibongkar dan dibangun Hotel Jansen dan Hotel Jansen masing-masing mempunyai 50 kamar.
Selanjutnya Palace Hotel menjadi hotel terbesar di Malang pada 1947. Saat terjadi Clash I hotel ini dijadikan tempat pemerintah Kota Malang sementara. Bersamaan dengan dibakarnya gedung Balai Kota Malang , pegawai beserta sebagian penduduk mengungsi ke daerah di sekitar Malang Selatan. Sampai saat ini di dalamnya masih terjaga keasliannya, bentuk lantai, plafon, dan dinding bergambarkan Belanda yang dibuat masa pemerintahan Belanda masih terlihat mengkilap.
Masjid Jamik
Masjid Jamik Malang dibangun 1875. Sedang tanah lapang di depannya 7 tahun kemudian, tahun 1882, dibangun alun-alun Malang (50 tahun Kotapradja Malang, 1964). Masjid ini termasuk 3 masjid “beryoni” di Jawa Timur selain Masjid Ampel Surabaya dan Masjid Jamik Pasuruan.
Masjid ini mempunyai tiang di bagian dalam sebanyak 20 buah, sebagai simbol 20 sifat wajib Alloh SWT dan 4 tiang besar di depan sebagai simbol 4 sifat wajib Nabi Muhammad SAW.
Tiang-tiang ini adalah tempat yang utama untuk memanjatkan doa kepada Alloh SWT. “Saat saya kecil, KH. Zaini Amin pernah bercerita tentang keutamaan tiang-tiang ini, karena saat dibangunnya para pendiri berpuasa dengan khusuk, sampai-sampai setelah salat Jumat para sesepuh masjid berebut untuk bersandar di tiang-tiang ini sambil memanjatkan pujian kepada Alloh SWT” (saat saya mewawancarai KH.Kamilun, ketua Yayasan Masjid Jamik Malang).
Dulu di dalam masjid ini terdapat prasasti yang berisi peresmian perluasan masjid pada 15 Maret 1903 dan selesai 13 September 1903. Prasasti itu ditandatangani langsung oleh Bupati Malang IV Raden Bagoes Mohammad Sarib yang menjadi Bupati Malang dengan gelar Raden Adipati Ario Soerto Adiningrat Ridder der Officer Oranje Nassau, menjabat tahun 1898 sampai 1934.
Perluasan tahap II tahun 1950, tahap III tahun 1980 dan tahap IV tahun 1992 dan pada tahun 2002 atas anjuran arsitek Perancis yang mengamati langsung kondisi bangunan, masjid ini diperkuat sekaligus diperindah sampai sekarang.
Bentuk dan ornamen masjid tetap dipertahankan “Njawani” sampai sekarang. Di mana dapat dilihat bentuk pintu, hiasan tombak, dan ukiran-ukiran dari besi baja sejak kali pertama dibangun.
Di belakang masjid terdapat makam beberapa kerabat bupati yang sekarang dipindah ke Makam para Bupati di Gribig. Salah satunya kemungkinan besar makam Kyai Tumenggoeng Mertonegoro yang berganti nama Kijaie Toemenggoeng Nitienegoro setelah menjadi Bupati Malang I periode sebelum kolonial  (tahun 1740). “Kandjeng Nitinegoro sedo pesarehan ing wingking Masjid Jamek, Aloon-aloon Malang” (surat Eyang Mlojokoesomo/ Bupati Malang II kepada cucunya Soemowirjo, 1929).
Sedangkan bupati keempat pra kolonial atau periode pertama masa colonial, R.Toemenggoeng Ario Notodiningrat meninggal tahun 1884 dimakam di Gribig (kitab Nitieadiningrat 1914).
Gereja GPIB Immanuel
Di perempatan alun-alun utara tahun 1861 berdiri sebuah Gereja Protestan kuno bersebelahan dengan Masjid Jamik. Karena bentuknya sangat sederhana oleh Belanda dibongkar dan dibangun kembali dengan gaya Gereja Gothic tahun 1912.
Pada waktu itu halaman depan masih hijau dan luas. Seiring perkembangan kota yang pesat dan lokasinya yang tepat di persimpangan jalan utama, maka halaman depan gereja ini menjadi semakin sempit. Sedangkan bentuk luar dan dalam gereja persis sama dengan awal dibangunnya.
Gedung Flora-Gedung Wijaya Kusuma
Flora Cinema dibangun pada 1928 dengan fasilitas Biljart Room, barber shop dan toko-toko makanan. Setelah kemerdekaan, gedung ini berganti nama Wijaya Kusuma dan menjadi gedung kesian yang paling representatif di Malang  dengan fasilitas panggung utama dan dua panggung samping serta balkon untuk penonton dan akustik ruang, yang sangat indah.
Banyak grup-grup besar tanah air pernah bahkan mengawali kariernya dari sini, seperti Srimulat, Lokaria, dan Ketoprak Siswobudoyo.masih banyak gedung kolonial dan tradisional yang sangat bersejarah, yang patut kita ketahui sekaligus kita lestarikan keberadaannya, saya sangat berharap bangunan-bangunan tersebut dapat terlindungi sesuai dengan konvensi UNESCO tentang World Heritage Site. Yang bisa melindungi adalah masyarakat (pemilik) dan peraturan (pemerintah).
Jika keduanya mempunyai komitmen menjaga dengan jelas dan berkelanjutan, maka di masa depan, Insyaalloh akan terjaga demi kepentingan anak cucu kita lima puluh tahun lagi.
KISAH SEJARAH KOTA MALANG YANG TAK BANYAK TERUNGKAP (9)
Jati Diri Di Sosok Ken Dedes dan Topeng Malang
Sebuah daerah dikenal karena ada cirri pembeda dengan daerah lain. Tersebutlah kata jati diri. Topeng Malangdan Ken Dedes sebagai ibu para raja adalah sebagian kecil jati diri Malang.
Pada saat rapat program kerja nasional 2012 di Jawa Timur tentang pembentukan travel pattern (pola perjalanan wisata), setiap kota di Jawa Timur mengajukan usul yang beragam. Tetapi, usul beragam itu harus membentuk satu linkage system yang komprehensif.
Pada prinsipnya tourist attraction (objek wisata) tidak dapat dipisahkan oleh batas administrasi territorial. Seperti Gunung Bromo, wisatawan tidak akan terlalu peduli gunung tersebut masuk wilayah Malang, Pasuruan, Probolinggo atau Lumajang. Yang mereka pedulikan, bagaimana dapat menuju ke sana dengan nyaman dan aman.
Tetapi setiap wilayah memang harus mempunyai diferensiasi guna distinguisged brand identification yang kadang bukan muncul dari slogan yang digembar-gemborkan, tetapi pengamatan jujur dari tourist’s eyes.
Demikian juga Malang (bukan wilayah administrative Kota Malang, kabupaten atau Batu).
Tapi Malang sebagai satu kesatuan territorial image yang mempunyai icon melekat sejak dikunjungi dan ditulis dalam berbagai expedition (Raffles, 1826). Yakni, Singhasari, Kanjuruhan, Kendedes dan Topeng Malangan.
Pasti semua orang Malang sudah paham betul, siapa Kendedes, Kerajaan Singhasari, Kanjuruhan, atau topeng Malangan. Tetapi tidak ada salahnyakali ini kita bahas sekali lagi untuk me-refresh ingatan tentang nenek moyang yang telah ikut membentuk siapa kita sekarang,
Pada zaman prasejarah, secara geologis dataran tinggi Malang berawal dari endapan lava beku dab lempeng hitam bekas aliran lava yang membentuk suatu danau purba. Danau itu selanjutnya berubah menjadi datran tinggi Malang (J.Mohr, dalam Mustopo, 2002).
Masa peradaban perunggu-besi dan megalithik di Malang sekitar abad VI sebelum Masehi-telah lahir seni bangun dan seni patung. Peninggalan Megalithik bisa kita lihat di Watu Gong, Desa Dinoyo (Blasius, 2009) yang berbentuk seperti kenong (alat musik gamelan) dan mirip lesung (stone mortar).
Menurut penelitian Dr. Williem, Batu merupakan umpak dari bangunan prasejarah. Setelah sekian lama berselang, keberadaan Malang sebagai satu daerah, muncul kembali dengan adanya Candi Badut. Candi Badut adalah salah satu candi tertua di Jawa Timur.
Gaya bangunannya sejenis dengan candi-candi di Dieng Jawa Tengah. Candi yang berada di Barat Laut Kota Malang ini terletak di Desa Badut dan ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 1921 oleh Mr.Maurenbrecher. Pada waktu itu, ia menjabat sebagai kontrolir BB (pamong praja jaman kolonial).
Peninggalan dan penyelidikan dilakukan pada tahun 1925 dan selesai tahun 1926. Candi yang mempunyai ukuran kamar induk 3,35 meter dan 3,67 meter serta mempunyai ragam hias Kala Makara di pintu gerbang, Kinnara dan Kinnari pada pintu tangga, serta ragam hias bunga-bungaan (floralistie ornament) di dinding candi, seharusnya terdapat arca Durga Mahisasuramardini di utara. Selain itu juga harus ada arca Ciwa Guru di selatan, Ganeca di timur dan Lingga Yoni di pusat kamar candi.
Namun, sekarang yang ada hanya arca Lingga Yoni. Meski masih belum jelas Lingga Yoni di sini apakah Lingga Yoni yang disebutkan dalam prasasti Dinoyo 682 Caka. Prasasti Dinoyo sebelum dibawa ke museum Nasional di Jakarta.
Arca itu ditulis dalam bahasa Sansekerta dengan huruf jawa kuno berangka tahun dalam bentuk Candra Sangkala. Bunyinya Natana Vasurasa yang berarti 682 Caka atau 760 M. Prasasti ini menyebutkan adanya raja bernama Devasimha yang mempunyai putra Gajayana, Kerajaan Kanjuruhan dan mempunyai cucu bernama Uttijana akan mengganti arca Agastya yang terbuat dari Kayu Cendana dengan arca yang terbuat dari batu hitam dan membuat candi (kemungkinan candi Badut) yang indah.
Nama Badut sendiri berasal dari nama Liswa, dalam bahasa Sansekerta berarti pelawak (Badut).
Terus, siapa Ken Dedes itu? Dalam kitab Pararaton disebutkan bahwa Ken Dedes adalah istri dari Raja Singhasari Sang Amurwabhumi atau populer dengan nama Ken Arok. Ken Dedes juga terkenal dengan kecantikannya, sehingga banyak pihak menganggap arca cantik Prajnaparamitha ini adalah identifikasi perwujudan dari putri Ken Dedes.
Memang disebutkan Ken Dedes adalah penganut agama Budha Tantrayana yang taat dan pandai ilmu agama sehingga pendapat tersebut tidaklah terlalu berlebihan. Terlebih mengacu pada ketaatan Dewi Prajnaparamitha, yang merupakan salah satu Dewi dalam cerita Budha.
Penemuan arca yang aslinya terdapat di kompleks Candi Singhasari dan sekarang disimpan di Museum Nasional Jakarta-membuktikan bahwa Malang merupakan pusat kerajaan besar di wilayah Jawa. Tentunya yang menguasai daerah sekitarnya (Prasasti Mula-Malurung 1255 M).
Selain secara arkeologis ditemukan pathirthan (pemandian) yang kini disebut sendang Ken Dedes di Singosari, juga terdapat situs di daerah Polowijen (Ponowijian). Daerah Polowijen juga merupakan tempat tinggal seorang biksuni Budha Tentrayana, tak lain adalah Ken Dedes dan orang tuanya Mpu Parwa.
Ken Dedes dalam kitab Nagara Kertagama disebut sebagai wanita Nareswari, seorang wanita yang akan menurunkan raja-raja. Siapapun yang menikahinya akan menjadi raja. Itulah sebabnya Ken Arok berusaha keras untuk menikahinya meskipun harus mengorbankan banyak nyawa.
Keturunan Ken Dedes antara lain Raja Anusapati (meninggal 1248 M dan sosoknya dicandikan di Candi Kidal), Panji Tohjaya (meninggal 1250 M), Rangga Wuni (Abhiseka Wisnuwardhana meninggal tahun 1270 M dan dicandikan di Candi Jago), Mahesa Campaka (Bhatara Narasingamurti), serta Kertanegara (1254 M).
Duplikat patung Ken Dedes ditempatkan di sebelah kiri pintu masuk Kota Malang, bertujuan agar para pendatang yang memasuki Kota Malang mengetahui bahwa raja-raja besar di Jawa adalah keturunan orang Malang.
Selanjutnya, image yang terbentuk dari Malang lainnya adalah topeng Malang. Menurut saya, jika sekarang ditanya apa ikon yang menjadi ciri khas Malang, pasti 75 persen orang Malang menjawab Topeng Malang. Sebelum semua bersuara topeng Malang harus dilestarikan, diselamatkan, bahkan dikembangkan, ada baiknya mencoba untuk mengetahui terlebih dahulu apa, siapa, dan bagaimana topeng Malang itu.
Saya ada sedikit data yang saya rangkum dengan wawancara dan studi literatur sejak tahun 1998. Topeng adalah penutup wajah dalam pertunjukan wayang topeng yang bermakna lambang jasmani atau badan yang tampak (Zoetmulder, SY 1989:213/Serat Centini V, 347-349).
Wayang Topeng Malang mempunyai ciri khas di bidang kesenirupaan, tata busana, iringan musik gamelan dan cerita yang dimainkan (Supriyanto, 2004:12). Cerita Topeng Malang yang digunakan penari, pengukir dan Ki Dalang bersumber pada ragam sastra lisan cerita Panji yang ruang, waktu dan suasananya mengacu pada peristiwa sejarah pada jaman Singhasari, Kediri, Daha dan Tanah Seberang Jawa (Tanah Sebrang) jaman Prabu Airlangga (1019-1041 M) dan Prabu Jayabaya (1130-1157 M).
Dalam Kitab Negara Kertagama, pupuh 91 baik 4 juga sudha dikenal dari topeng , yang menyebutkan:”Bahwa para pembesar ingin beliau menari topeng. Ya jawab beliau”. Cerita panji sendiri ada beberapa versi antara lain : Hikayat Panji Kuda Semirang, Panji Semirang, Galuh Digantung, Cekel Wanengpati, Misa Taman Jayeng kusuma, Dewa Asmara Jaya, Undakan Panurat dan Panji Kamboja (Poerbatjaraka, 1968).
Perkembangan topeng di Malang menurut beberapa sumber berawal sekitar tahun 1898, saat Kabupaten Malang dipimpin Raden Bagoes Mohamad Sarib yang bergelar Raden Adipati Ario Soerio Adiningrat.
Menurut Ridder der Officer oranje Nassau, terdapat dua orang dalam satu perguruan topeng, yaitu mbah Reni (Polowijen) dan mbah Gurawan (Sumberpucung). Tjondro alias Mbah Reni adalah abdi dalem Kabupaten Malang yang dikenal sebagai dalang, penari dan pengrajin topeng.
Semasa beliau (Raden Adipati Ario Soerio Adiningrat), grup topeng yang terkenal berasal dari Pusangsanga Kawedanan Tumpang. Selain itu ada beberapa kumpulan wayang topeng seperti, Mbah Tirtowinoto (Jabung), Mbah Rusman dan Mbah Sapuadi (Precet).
Lalu, ada kumpulan di Desa Wangkal, Glagah Dowo, Gubug Klakah, Dhuwet, Dhumpul, Jabung, Senggreng, Kademangan, yang selanjutnya diteruskan oleh Rakhim, Rasimun, Gimun, dan Djakimin (Supriyanto-Adi Pramono, 1997). Sedangkan Mbah Gurawan mempunyai murid Mbah Marwan, buyut dari Mbah Karimun, cikal bakal topeng di Kedung Monggo, Pakisaji Kabupaten Malang.
Mbah Karimun pada waktu kecil bernama Paryo. Karena sering sakit-sakitan, namanya diganti menjadi Karimun. Mbah Karimun lahir tahun 1910. Orang tuanya, Kimun dari Ponorogo, dan Ibu Jamik dari Bangil, Pasuruan, tinggal di Desa Bangelan, Pakis.
Topeng Kedung Monggo sendiri berawal dari kakek Mbah Karimun yang bernama Ki Serun, seorang warok asli Ponorogo yang terpaksa mengungsi ke Malang karena dikejar oleh tentara Belanda. Dia lalu menetap sebagai Kamituwo di Kedung Monggo setelah berganti nama Ki Semun. Dia tinggal beserta istrinya, Mbah Murinah dan Mbah Waginah.
Mulai tahun 1933 mendirikan sanggar bernama Pendowo Limo. Tahun 1978 berganti nama sanggar Asmoro Bangun yang berarti Cinta Kebaikan. Sejak saat itu Mbah Karimun mengajar di berbagai sanggar, antara lain di Desa Genengan, Kaseran, Sutojayan, Wonokerto, Palakan, Plaosan, Kranggan, Nglowok, dan Ngajum (Karimun, 2000-2007).
Lakon Induk yang sangat populer adalah lakon “Rabine Panji”. Lakon ini mengisahkan Perkawinan Panji Reni dengan tokoh utama Panji Inukertapati, Dewi Anggraeni dan Dewi Sekertaji.
Jumlah Topeng Malang yang asli adalah 6 buah, yaitu Klono, Bapang, Panji, Sekartaji, Gunungsari, dan Ragil Kuning. Enam atau Nem berarti nemen olehe ngudi berkembang menjadi 40, selanjynta 140 jenis. Sedangkan ragam hias pada topeng, antara lain ragam hias urna (pada bagian kening), ragam hias dahi (menunjukkan sifat kebangsawanan, seperti melati, kantil, dan teratai), dan ragam hias jamang (irah-irahan, tutup kepala).
Warna pada topeng menunjukkan karakter tokoh dalam dunia pewayangan. Warna putih menggambarkan jujur, suci dan berbudi luhur. Lalu kuning menggambarkan kemuliaan, hijau menggambarkan watak satria dan warna merah untuk raksasa, menggambarkan angkara murka (Sunari, 2002).
Pembukaan wayang topeng khusus di Tumpang menggunakan tari pembuka Beskalan atau Srimpi Limo. Sedangkan di Malang, sekarang banyak sekali versi untuk berbagai kepentingan.
Dengan sedikit data yang sederhana ini, perlu langkah untuk melestarikannya dengan tepat sasaran. Topeng tidak hanya dicetak dari plastik tanpa tahu bentuk kayu aslinya. Atau dipresentasikan di kota besar tanpa tahu alamat pengrajin sebenarnya. Yang harus dihindari betul adalah, menjadikan topeng sebagai komoditas penghasil rupiah tanpa pernah “menyentuh” nasib para pahlawan-pahlawan topeng. Padahal mereka tetap menjaga warisan budaya, mempertahankan kemurnian budi pekerti bangsa.
Nah, sekarang semua fakor distingushed brand telah dikupas, apa langkah selanjutnya? Sebagai penguat akar budaya dan penggerak utama pariwisata, faktor ciri khas lokal konten menjadi jawabannya.
Banyak langkah yang bisa dilakukan menuju ke arah sana. Misalnya identifikasi perbedaan Malang dengan kota lain. Tapi yang paling sederhana dan bisa dilakukan secara bersama-sama, adalah langkah peduli dengan sesuatu yang dekat dan selalu bersinggungan dengan kita. Yaitu straatnamen (nama-nama Jalan) di Malang.
Kita punya Kayutangan, Temenggungan, Polehan, Comboran, Kidul Dalem, Mergosono, Kotalama dan banyak lagi. Itu merupakan aset lokal-konten yang tidak dimiliki oleh kota-kota lain.
Sekarang telah diganti dengan nama-nama baru yang tidak mempunyai nilai pembeda dengan kota lain. Masalahnya, punyakah kita keinginan untuk mengembalikan nama-nama jalan yang menjadi jati diri Malang? Besar kemungkinan nama-nama asli itu masih dicintai oleh masyarakat Malang sampai sekarang. Mau bukti? Meskipun telah diganti lebih dari 10 tahun, masyarakat asli Malang tetap bangga berkata,”Sorry jes, ayas kera Onosogrem (Mergosono)”.

sumber: http://pattiromalang.blogspot.co.id/2012/04/kisahsejarah-kota-malang-yang-tak.html

0 Comment:

Posting Komentar